Oleh: Rifka Fadhilah
Tittle : Memories chap. 2Author : Kim Tae Rif
Genre : Romance, Comedy, Hurt, etc.
Main Cast : Park Chanyeol, Kim An Ra
Other Cast : Choi Seo Min, Oh Sehun, Byun Baekhyun, etc.
Setelah 2 minggu hibernasi/? Mian buat yang nunggu kelanjutan ff abstrak inn Akhirnya bisa bikin lanjutannya Selamat baca ff absurd saya oke-_- Happy reading~
Warning! Virus typo betebaran
.
.
.
.
.
*Author POV*
Sekarang apa yang harus Chanyeol lakukan? Ia benar-benar tidak bisa membuka pembicaraan. Hanya terdiam sambil memperhatikan yeoja yang sekarang tengah memperhatikan apartemennya. Bodoh, bagaimana jika yeoja itu sebentar lagi merasa bosan?
Chanyeol melangkah menuju dapur, mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan setelah menyuguhi An Ra minum.
“An Ra, kau mau minum apa?” Pertanyaan itu terasa bodoh saat nada kikuk menyertainya.
“Aku? Ah, terserah kau saja,” Jawab An Ra, lalu tersenyum pada Chanyeol. “Chanyeol-ah, bolehkah aku melihat-lihat apartemenmu? Tenang saja, aku tidak akan mengobrak-abrik apapun, atau melihat barang-barang pribadimu.” Kali ini An Ra balik bertanya.
“Tentu. Kau boleh melihat apartemen abstrakku.” Baiklah, sekarang Chanyeol bisa menyingkirkan rasa kakunya dan sedikit membuat An Ra tertawa.
“Apa? Tidak, tidak, apartemenmu sama sekali tidak abstrak. Kau tahu, mungkin kau adalah namja ter-rapih pertama yang ku kenal. Kupikir namja selalu berantakan.” An Ra mengangkat sedikit kedua alisnya dan tertawa kecil.
“Benarkah? Ah, aku sangat beruntung jadi namja rapi pertama yang kau kenal. Hei, tidak semua namja itu berantakan, kau tahu, aku tidak pernah merasa nyaman jika apartemenku berantakan.” Chanyeol balik mengangkat kedua alisnya dan bergerak membelakangi An Ra untuk membuat Capuccino.
“Baiklah, maafkan aku telah menyangka semua namja itu berantakan. Mungkin aku harus mengangkat 2 jempolku untukmu?” Chanyeol membalikkan badannya untuk melihat 2 jempol yang ditunjukkan An Ra. Yeoja itu masih saja konyol seperti dulu.. pikir Chanyeol.
“Itu pantas untukku,” Chanyeol mengangkat 2 jempolnya, mengikuti kekonyolan An Ra dan tersenyum pepsodent/? saat mendapati An Ra tertawa.
Saat ini, tidak ada yang dirasakan Chanyeol selain perasaan nyaman bersama An Ra. Seolah memutar waktu dan melakukan kembali apa yang dulu pernah hilang darinya 3 tahun lalu. Seandainya ia bisa bermain dengan waktu, ia akan menghentikan waktu saat ini juga dan tenggelam dalam candaannya bersama An Ra. Pernahkah kalian merasakan jatuh cinta? Itulah yang sedang dirasakan Chanyeol sekarang, namun ia sangat berat mengakuinya. Hanya karena ia tidak ingin mengukit-ngukit masa lalunya, masa lalu yang menurutnya sangat tidak menyenangkan. Masa lalu terburuk sepanjang hidupnya.
Chanyeol menaruh 2 gelas Capuccino yang masih mengepul dan kembali memperhatikan An Ra yang masih mengamati isi apartemennya. Chanyeol berjalan mendekati An Ra.
“Kau suka alat musik?” Tanya An Ra sambil menunjuk beberapa alat musik modern dan beberapa koleksi gitar.
“Ya, aku sangat menyukai alat musik. Bagaimana denganmu? Apa kau masih menyukai alat musik?”
‘Masih’? Apa yang ia maksud dengan kata ‘masih’? Bodoh, kenapa ia bisa gegabah begitu pada yeoja ini! Menyadari An Ra memandanginya sambil mengernyitkan sedikit dahinya, Chanyeol segera mengulangi pertanyaannya. Tentu saja ia menghilangkan kalimat ‘masih’ dalam pertanyannya sekarang.
“Aaah, maksudku, apa kau menyukai alat musik?”
“Oh, ya, aku sangat menyukai alat musik.” Jawab An Ra. “Kau tahu, dulu ada orang yang selalu setia mengajariku alat musik. Dulu aku sangat payah dalam hal bermusik, dia mengajariku sampai aku bisa memainkan alat musik.”
Kalimat yang baru saja yeoja itu katakan membuat dada Chanyeol terasa sesak. An Ra masih mengingatnya, yeoja itu masih mengingat Chanyeol dengan baik. Tentu saja orang yang dimaksud An Ra adalah dirinya. Chanyeol yang mengajarkan An Ra musik, bagaimana cara memetik gitar, bagaimana cara memukul drum, bagaimana memainkan jarinya diatas tuts piano.
>>>>>>>>>>> Flashback On
“Chanyeol-ya! Ajari aku bermain alat musik, jebal..” Rengek An Ra. Siang itu sepulang sekolah, seperti biasa Chanyeol menemui An Ra di lapangan basket dekat komplek An Ra. Rumah An Ra dan Chanyeol berjauhan, berbeda komplek. Yang mengenalkan mereka berdua tentu saja ayah dan ibunya.
Mereka bekerja sama dalam sebuah proyek bisnis dengan keluarga Chanyeol. Otomatis kedua keluarga konglomerat itu sering mendatangi rumah satu sama lain.
“Arasseo. Memangnya sejak kapan kau menyukai alat musik? Setahuku kau tidak terlalu suka musik.” Chanyeol mengacak-ngacak kecil rambut panjang An Ra yang terurai.
“Tentu saja aku tidak mau kalah darimu! Otakmu hampir menyusul otakku, Gambaranmu juga. Dan yang paling membuatku sebal, tinggi badanmu sangat jauh melampaui tinggu badanku. Dan sekarang aku ingin menyaingi kemampuan musikmu!” An Ra menyenggol lengan Chanyeol.
“Hei, kalau membicarakan tinggi badan, badanku memang sudah tinggi. Kau saja yang tidak tumbuh tinggi. Dasar gadis pendek!” Ledek Chanyeol tanpa mempedulikan An Ra yang sudah menyiapkan kepalnya.
“Mwo?! Apa kau bilang aku gadis pendek? Lihat saja nanti saat aku sudah tumbuh tinggi, aku akan membuatmu tak percaya! Dasar kuping gajah!” Tawa An Ra yang sangat renyah membuat Chanyeol sebal. Kuping gajah katanya?Lihat saja, Aku akan membuat kupingmu membesar! Pikir Chanyeol. Seolah melaksanakan apa yang ada dalam pikirannya tadi Chanyeol memegang kuping An Ra dan mengangkatnya.
“Sebentar lagi kupingmu akan membesar, An Ra-ya!” Evil Smirk Chanyeol terdengar sangat menyeramkan.
“Yaaakkkk! Hentikan! Hentikan! Chanyeol-ya, aku tidak ingin menyaingi kuping gajahmu itu!”
“Apa? Apa yang barusan kau katakan? Kuping gajah? Hei, jika kau mengatakannya lagi, akan kupastikan kau memendek dan kupingmu akan membesar, lebih besar dari kupingku!”
“Silahkan saja! Kuping gajah, kuping gajah, kuping gajah, kuping gajah!” Teriak An Ra yang jelas-jelas kupingnya masih ditarik oleh Chanyeol.
“Baiklah, jika itu maumu,” Chanyeol segera menaiki punggung An Ra, sambil terus menjewer kuping An Ra.
“Aaaaaaaaaa!!!!!! Hentikan Chanyeol-ya! Kumohon! Maafkan aku telah mengejekmu kuping gajah.. Jebal, hentikan!” An Ra menjerit ketika tubuh
Chanyeol sedang menaiki tubuhnya. Hingga akhirnya Chanyeol turun dari punggungnya dan berhenti menjewernya.
An Ra berjalan menjauhi Chanyeol ke arah bangku yang berada dekat ring basket dang mendudukinya. Chanyeol hanya menoleh dan berjalan mendekatinya. An Ra menekuk bibirnya dan melipat kedua tangannya ke depan dada. Baiklah, ini pertanda An Ra marah padanya. Chanyeol duduk disebelah An Ra dan meniru gayanya dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
“Hei Kim An Ra, berhentilah besikap seperti anak kecil! Kau sudah besar, bahakan umurmu sudah 14 tahun. Kau masih gampang marah seperti ini?” hanyeol mengomel tanpa melihat An Ra. Ia hanya menatap lurus lapangan basket. “Baiklah, baiklah. Aku akan mengajarimu alat musik apapun yang kubisa. Kau tidak usah marah seperti itu. Mukamu terlihat semakin jelek!” Sambung Chanyeol.
Beberapa lama kemudian An Ra tidak menunjukkan reaksinya dan membuat Chanyeol heran. Chanyeol menoleh ke arah An Ra dan mendapati An Ra sedang menutup mulut dengan kedua tangannya. Disertai dengan isakan kecil yang terdengar sangat pelang dari mulutnya. Hei, ada apa ini? Apa dia menangis? Apa ia marah pada Chanyeol karena perkataannya barusan?
“An Ra-ya? An Ra-ya? Kenapa kau menangis? Kau.. Kau marah karena ucapanku barusan? Ayolah.. Aku hanya bercanda, jangan menangis seperti ini..” Chanyeol menyentuh pundak An Ra yang sekarang sedang menangis tersedu. An Ra tidak meresponnya. Ia malah semakin terisak.
Chanyeol menyentuh kedua pundak An Ra dan segera memeluknya. Pelukan hangat yang sangat An Ra butuhkan sekarang. Demi apapun ia ingin menghentikan waktu sekarang juga dan berkata kepada dunia ia tidak ingin kehilangan namja ini. Namja yang selalu menjaganya dan menghiburnya saat ia sedang seperti ini.
Beberapa saat An Ra tidak bersuara, ia ingin terus seperti itu. Ingin selalu berada dipelukan Chanyeol. Hingga akhirnya An Ra membuka mulutnya sambil terus menangis tersedu.
“Chanyeol-ya.. Bagaimana jika aku kehilanganmu? Aku sangat tidak ingin kehilanganmu. Kau adalah satu-satunya namja yang mengerti diriku.” Kata-kata itu membuat Chanyeol melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?” Chanyeol menatap lekat mata indah An Ra. Mencoba mencari apa yang membuat yeoja itu berpikir ia akan berpisah dengan An Ra.
“Entahlah. Aku hanya takut kau meninggalkanku atau sebaliknya. Kau, namja yang selalu membuatku nyaman saat didekatmu. Bagaimana mungkin aku tidak takut kehilanganmu?” Isakannya semakin terdengar keras saat ia mengucapkan kembali alasannya bersedih. Dan membuat detak jantung Chanyeol terasa dibombardir begitu hebohnya.
“Hei, Kim An Ra. Selama Tuhan masih menakdirkan kita bersama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan jika hal buruk mungkin terjadi, kau tidak boleh lemah seperti itu.” Ucapan Chanyeol yang berusaha menenangkan An Ra rupanya malah membuat An Ra semakin tersedu.
“Chanyeol-ya! Jangan berkata seperti itu! Sampai kapanpun aku tidak akan siap kehilanganmu. Kau pikir siapa lagi yang akan membuatku tertawa?” Nada serius yang terdengar lucu itu kembali terdengar dari mulut An Ra yang sekarang ditekut kebawah. Sangat lucu jika ia sedang cemberut seperti ini.
“Bodoh. Dengarkan aku. Kau pikir jika kau kehilanganku tidak ada yang bisa membuatmu tersenyum lagi? Aku yakin, meskipun mungkin aku tidak ada disisimu, pasti ada orang yang bisa menggantikanku untuk terus membuatmu tersenyum. Dasar cengeng! Kau tidak boleh lemah seperti itu!” Chanyeol lagi-lagi mengacak-ngacak rambut An Ra. Kali ini An Ra sama sekali tidak bereaksi.
“Maukah kau berjanji, kuping gajah?” Kali ini Chanyeol tidak marah dipanggil ‘kuping gajah’. Hhhh, demi apapun jika yeoja ini tidak sedang bersedih, Chanyeol akan menjitak kepalanya sampai ia bersujud dihadapannya -____-
“Baiklah. Katakan, aku harus berjanji apa?”
“Kau harus berada disisiku selamanya. Mengajarkan alat musik sampai kemampuanku menyamaimu.” An Ra menatap lurus mata Chanyeol, berharap Chanyeol benar-benar berjanji padanya.
“Bagaimana jika aku tidak mau?” Tanya Chanyeol polos, sama sekali tidak berkesan serius.
“Dasar kau kuping gajah! Aku serius!” An Ra menjitak kepala Chanyeol dan Chanyeol pun meringis kesakitan.
“Arasseo. Hei gadis bodoh, aku berjanji padamu akan terus berada disisimu dan mengajarkan alat musik yang aku bisa padamu sampai kemampuanmu menyaingi kemampuanku.” Chanyeol berjanji sambil mengangkat kedua jarinya (peace) dan membusungkan dadanya, seolah-olah ia sedang berjanji kepada negara
Kim An Ra tertawa terbahak-bahak saat mendengar janji namja itu. Namja ini sama konyolnya dengan dirinya. Namja ini sangat ahli membuat moodnya
baik.
“Baiklah, kau sudah puas, nyonya An Ra?” Chanyeol mencibir.
“Yah, setidaknya telah membuatku melupakan semua rasa takutku, Tuan kuping gajah.”
“Yaakkkk! Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu? Kau sungguh sangat menyebalkan!”
“Berhentilah protes. Dasar kau kuping gajah yang sangat cerewet!” An Ra menarik hidung Chanyeol dan segera lari menjauh. Ia tahu Chanyeol paling benci ditarik hidungnya seperti itu.
“Kim An Ra!!!! Aku akan membuatmu menangis lagi! Lihat saja!” Chanyeol berlari mengejar An Ra yang sudah jauh di tengah lapangan.
>>>>>>>>>>>Flashback Off
“Geurae? Lalu apa.. Apa orang itu masih bersamamu?” Hanya pertanyaan itu yang bisa ia lontarkan. Ia hanya ingin tahu apa yang An Ra rasakan saat ia benar-benar kehilangannya.
“Ani. Dia.. Dia tidak bersamaku lagi.” Lirih An Ra.
“Wae?” Chanyeol semakin penasaran pada reaksi An Ra. Ia ingin melihat reaksi An Ra lainnya yang selama ini ingin sekali ia ketahui.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar