Oleh: Rifka Fadhilah
Tittle : MemoriesAuthor : Kim Tae Rif
Genre : Romance, Comedy, Hurt, etc.
Main Cast : Park Chanyeol, Kim An Ra
Other Cast : Choi Seo Min, Oh Sehun, Byun Baekhyun
^-^ Happy Reading ^-^
07.00 PM
Seoul, Korea Selatan.
Kim An Ra membuka matanya perlahan, lalu mata indah itu terbuka sepenuhnya. An Ra meregangkan tubuhnya sambil menutup mulutnya yang kini sedang menguap. Matahari mengintip dari celah tirai apartemennya yang masih tertutup. An Ra bangkit dari kasurnya dan segera membuka tirai kemudian berjalan menuju dapur. Matanya menangkap sosok yang tidak asing lagi berada di apartemennya, Choi Seo Min.
“Rupanya kau sudah bangun, eoh? Aku membelikan sarapan untukmu. Aku juga membuatkanmu teh panas. Kajja, makan yang banyak!” Sapanya dengan senyuman hangat.
“Sepertinya aku punya firasat yang aneh.” Gumam An Ra, namun masih bisa didengar Seo Min. An Ra membuka bungkusan makanan yang dibelikan Seo Min dan perlahan memasukkan fish and chip itu ke dalam mulutnya. “Kau salah membelikanku makanan ini, ini lebih tepat untuk makan siang.” Sindir An Ra. Seo Min mencibir dan mendorong pundak An Ra pelan.
“Yak! Sudah untung kubelikan makanan. Dasar kau!”
“Oh ya, ada apa kau pagi-pagi kesini membelikan sarapan untukku dan membuatkan teh untukku?” Tanya An Ra.
“Aku ingin meminta bantuanmu.” Nada suaranya kini berubah menjadi super mengerikan, nada merengek seorang anak kecil. “Sudah kuduga.” Sela An Ra cepat. “Ayolah.. Kau ini sahabat baikku, kenapa aku meminta bantuanmu saja kau tidak mau?” Seo Min menarik-narik badan Nara yang masih lemas kedepan kebelakang.
“Mmm.” Sahut An Ra. “Memangnya kau mau minta bantuan apa, eoh?” Tanyanya.
“Ajari aku bermain biola.” Nada Seo Min yang semula memelas, kini berubah menjadi serius. Mendengar ucapan Seo Min, An Ra tersedak saat sedang menyesap tehnya.
“Uhukk.. Uhukk..” Kim An Ra tertawa begitu renyah sehingga membuat Seo Min dongkol. “Wae geurae?” Tanya Seo Min.
An Ra tertawa terbahak-bahak saat mendengar sahabatnya ini ingin bermain biola. Setahunya ia kurang suka alat musik dan ia juga tidak bisa bermain alat musik. Pernah saat Seo Min sedang memainkan gitar akustik, nada yang ia hasilkan sangat hancur dan terdengar menyedihkan. Sekarang, apa jadinya ia jika memainkan biola? Mungkin saja senarnya akan putus begitu Seo Min memainkannya. Atau mungkin nada yang ia hasilkan akan sangat menyeramkan seperti soundtrack film horor.
“Kim An Ra! Ayolah.. Kau kan pandai bermain alat musik, jadi tolong ajari aku.” Pintanya lagi. “Jebal..” Rengeknya lagi.
“Kau berani membayarku berapa Seo Min?”
“Yakk! Tak ku sangka ternyata anak konglomerat sepertimu masih membutuhkan uang.”
“Tentu saja! Hei, asal kau tahu, aku hanya di beri uang pas-pasan selama di Korea.”
Hening.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mengajarimu tanpa bayaran.” An Ra menyerah setelah melihat bibir Seo Min ditekuk kebawah. Jujur saja, ia sangat senang membuat Seo Min geram karena tingkah lakunya. An Ra memang sangat suka bercanda, dan ia tidak bisa marah.
“Nah, itu baru sahabatku.” Seo Min mendorong pundak An Ra lagi sambil tersenyum lebar.
“Mmm, aku memang sahabat yang baik.” An Ra membalas senyuman Seo Min sambil menunjukkan aegyonya. “Oh ya, terimakasih sarapannya.”
***
Pagi ini terlihat sangat cerah, bertolak belakang dengan suasana hatinya. Chanyeol lagi-lagi pindah dari sekolah lamanya di Gyeonggi, dan harus meneruskannya di Seoul, kota asalnya. Ini karena Appa-nya ditugaskan di luar negeri dan Chanyeol harus tinggal di Seoul, bersama Ahjussi-nya. Tetapi walaupun ia dititipkan pada Ahjussi-nya, ia tetap tidak serumah dengan Ahjussi-nya karena Ahjussi-nya sudah berkeluarga. Chanyeol tinggal di apartemen yang terletak tidak terlalu jauh dari sekolah barunya.
*At School*
“Pagi ini teman kalian bertambah satu, anak-anak. Kita kedatangan murid baru. Kajja, perkenalkan dirimu pada teman-temanmu.” Guru wali kelas itu menyuruh Chanyeol memperkenalkan dirinya dihadapan murid-murid sekelasnya.
“Annyeonghaseyo, ne ireumeun Park Chanyeol imnida.” Sapanya sambil menyunggingkan senyuman yang membuat yeoja manapun mengaguminya.
“Baiklah, kau duduk bersama Sehun disana.” Suruh guru itu. Ia berjalan menuju bangku ketiga di barisan tengah, bersama namja yang bernama Sehun. Dan tiba-tiba..
DEG!
Jantungnya berdetak begitu cepat dan matanya membulat seketika saat melihat yeoja yang duduk dibelakang bangkunya. Yeoja selama 3 tahun ini sama sekali tidak menampakkan senyum manisnya, yeoja yang selama ini ia rindukan, yeoja yang selalu membuatnya bahagia. Yeoja itu kini tersenyum manis padanya, senyum yang selalu membuat hati Chanyeol merasa tenang. Dan saat itulah ia merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya. Jantungnya kini berdebar 2 kali lebih cepat dari biasanya. Tapi ia sama sekali tidak membalas senyuman yeoja itu,malah ia mengabaikan yeoja yang tersenyum padanya. Kim An Ra..
***
Krriiiiinnnngggg.. Kriiiinnnnggggg..
Suara bel tanda masuk kelas berbunyi. Murid-murid yang berada di luar kelas segera masuk ke kelas karena tidak mau terkena masalah dengan gurunya. Kim An Ra dan Seo Min pun duduk dibangkunya. Tak lama kemudian gurunya datang bersama seorang namja. Mungkin namja itu adalah murid baru, entahlah, An Ra tidak terlalu menghiraukannya.
“Pagi ini teman kalian bertambah satu, anak-anak. Kita kedatangan murid baru. Kajja, perkenalkan dirimu pada teman-temanmu.” Guru matematika yang menyuruh namja itu memperkenalkan dirinya.
“Annyeonghaseyo, ne ireumeun Park Chanyeol imnida.”
Apa? Tunggu sebentar, siapa tadi namanya? Park Chanyeol? Kenapa namanya persis sekali seperti nama sahabatnya dulu? Sahabatnya 3 tahun yang lalu.. Tepatnya cinta pertamanya, yang sampai sekarang ia tidak tahu keberadaannya. Kalaupun memang benar namja itu.. Ah tidak mungkin! Wajahnya jauh berbeda dengan Park Chanyeol masa lalunya. Sudahlah, mungkin hanya dugaannya yang sama sekali tidak benar.
Setelah memperkenalkan dirinya, namja yang bernama Park Chanyeol melangkah menuju bangkunya yang berada tepat di depan bangku Nara. Nara tersenyum ramah pada Chanyeol. Tapi, namja itu sama sekali tidak tersenyum balik padanya. Ia malah mengabaikannya. Dan itu sempat membuat An Ra jengkel. Wae geurae? Kenapa namja itu terlihat tidak menyukainya? Padahal menurutnya ia tidak pernah berbuat apapun sampai bisa membuat namja itu tidak menyukainya. Ia selalu tersenyum kepada siapapun. Aah, ia mengabaikan kejadian menjengkelkan itu dan fokus ke dalam pelajaran.
SKIP
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid pun berhamburan keluar dari sekolah. Kecuali beberapa murid termasuk An Ra dan Seo Min. “An Ra! Lihat murid baru itu! Bukankah ia sangat tampan? Kau tahu.. Saat ia tersenyum, ia terlihat begitu manis, ne?” Celoteh Seo Min. An Ra memandangi Chanyeol yang sedang tertawa bersama Sehun dan teman-temannya. Tampaknya ia mudah bergaul. Buktinya, baru satu hari ia bersekolah disini, ia sudah terlihat sangat akrab dengan namja-namja lainnya.
“Ya, bisa jadi.” Balas An Ra sambil mengangguk-nganggukkan sedikit kepalanya. “Tapi sepertinya ia tidak menyukaiku.” Sambungnya. Ucapan An Ra membuat Seo Min heran.
“Chanyeol tidak menyukaimu? Wae? Kau yakin?” Tanya Seo Min. “Sepertinya benar. Saat ia berjalan menuju bangkunya, aku tersenyum padanya. Tapi ia tidak menggubris senyumanku. Padahal pada orang lain ia tersenyum.”An Ra menarik nafas panjang dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. “Jinjja?” Seo Min menatap An Ra iba.
“Hei, tidak usah melihatku dengan tatapan iba seperti itu!” Ucap An Ra sambil mencibir.
“Kajja!” Nara dan Seo Min pergi meninggalkan kelas. Saat menuruni tangga lantai 2, mereka berpapasan dengan Chanyeol. Nara menunjukkan senyuman termanisnya lagi pada Chanyeol, tapi apa? Untuk kedua kalinya, senyumannya sama sekali tidak dibalas Chanyeol. Namja itu mengabaikannya seolah-olah ia hanya debu yang terbang dihadapannya. Ada apa dengan namja itu? An Ra tidak marah, ia sama sekali tidak marah, ia malah heran. Kenapa namja itu membencinya.
“Kim An Ra! Kajja!” Seruan Seo Min membuyarkan lamunan Nara yang tanpa sadar menghentikan langkahnya.
“Ne..” Jawabnya pelan.
***
“Hei, kau mau ikut ke kantin tidak?” Tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk dan mengikuti Baekhyun dan Sehun ke kantin. Ia hanya membeli air mineral dan segera membayarnya ke kasir. Ah.. Ia baru ingat, ponselnya tertinggal di kelas. Ia pun segera kembali ke kelas. Dan sialnya ia bertemu dengan yeoja itu lagi. Yeoja itu tersenyum lagi padanya, dan jantungnya lagi-lagi berdebar begitu cepat. Apa yeoja itu masih menyukainya setelah apa yang terjadi tadi? Kenapa yeoja ini malah tersenyum lagi padanya? Ah, ia mengerti. Ia tahu Kim An Ra tidak mudah menyerah. Ia akan mencoba mendekatinya lagi, sampai rasa penasarannya hilang. Dan ia juga tahu, yeoja itu tidak bisa marah. Bagaimana pun cara ia menghindari An Ra, An Ra tidak akan membencinya dan malah semakin penasaran ingin mendekatinya. Tapi untuk sekarang.. Tidak! Ia tidak ingin membuat masa lalunya diungkit-ungkit lagi. Chanyeol harus menghindarinya. Chanyeol mengabaikan senyuman Nara untuk kedua kalinya.
“Hei Chanyeol! Kukira kau pulang duluan. Ternyata di sini.” Seruan Baekhyun membuyarkan lamunannya. “Ah, iya. Tadi aku ingin mengambil ponsel.”
“Kalau begitu, susul kami ke aula.” Ucap Sehun. Mereka akan bermain basket sore ini.
*At Chanyeol’s apartmen*
Chanyeol masih menatap lekat secarik fotonya bersama An Ra. Yeoja yang membuatnya merasakan kebahagiaan sekaligus kekecewaan. Kenapa ia seperti ini? Bukankah ia sudah membenci An Ra? Lalu kenapa jantungnya berdebar lagi saat An Ra tersenyum padanya? Pertanyaan itu simpang siur berada di dalam otaknya. Tetapi tidak ada satupun yang berhasil ia jawab. Lalu kenapa dunia ini sangat sempit? Kenapa ia harus satu sekolah bahkan satu kelas dengan An Ra? Pertanyaan itu kembali muncul dan tak hentinya membanjiri pikiran Chanyeol. Kalau sudah begini, apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba ia teringat rencananya untuk menata letak barang-barang di apartemennya. “Aiissshh.. Kenapa kau harus muncul di hidupku lagi, eoh?” Gumam Chanyeol. Ia lalu melangkahkan kakinya ke kamar, tempat ia menyimpan barang-barangnya yang sama sekali belum tertata dengan baik. 2 hari yang lalu sejak ia menginjakkan kaki di Seoul, ia belum sempat menata barang-barangnya. Mungkin ia terlalu lelah untuk menatanya sendirian.
Chanyeol menyalakan musik pop untuk menghibur dirinya, sekaligus menjadi penyemangat untuk kerjaannya kali ini. Ia berjalan kesana kemari sambil sesekali pura-pura bernyanyi dengan sapu sebagai mik dan gitarnya. Itulah Chanyeol, namja yang sangat mudah senang dan sedih. Namja yang bisa dikatakan sangat labil. Entahlah, mungkin itu yang membuatnya dijuluki ‘Happy Virus’ oleh teman-temannya. Termasuk.. yah, Kim Na Ra juga sering menjulukinya seperti itu. Sekarang Chanyeol sedang bernyanyi menggunakan sapunya dan berlagak layaknya seorang rapper.
Waktu menunjukkan pukul 8:00 AM. Kurang lebih 2 jam ia membereskan apartemennya yang kini tertata rapi dan sangat kinclong. “Hufffttt..” Ia merebahkan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tengah. Dan ia merasa sangat haus sekarang. Chanyeol membuka kulkas dan mendapati isi kulkas yang masih polos, tidak ada makanan ataupun minuman di dalamnya. “Aigoo.. Aku lupa, kenapa tadi aku tidak membeli makanan?” Chanyeol berdecak pinggang sambil mendesah berat. Terpaksa, ia harus membelinya sendiri ke luar apartemen.
Jalanan yang ramai dan udara yang dingin membuatnya semakin malas untuk menggerakkan kakinya untuk hanya sekedar membeli kebutuhan. Tidak bisakah mereka diam dia rumah mereka masing-masing? Cuaca dingin begini, mereka masih bisa keluyuran? Pikir Chanyeol. Ia sampai pada sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari apartemennya dan memasukinya. Chanyeol membeli makanan yang minuman banyak sekali, karena ia adalah namja yang jarang dan tidak bisa memasak. Bahkan memasak omelette saja ia sering gagal, dan hasilnya tidak usah ditanyakan lagi. Hasilnya omelette itu gosong dang pahit. Setelah selesai berbelanja makanan, ia segera menaiki gedung apartemennya dan menaiki lift untuk menuju lantai 12. Ia berjalan menyusuri kamar-kamar apartemen lainnya dan hampir sampai di depan pintu apertemennya. Tapi sialnya lagi.. Ia bertemu yeoja itu lagi! Apa lagi ini? Apakah Seoul sesempit ini sampai ia selalu dipertemukan dengan Kim An Ra? Tampaknya ia menyadari keberadaan Chanyeol dan segera menyapa Chanyeol dengan senyum manis yang sebentar lagi bisa membuat jantung Chanyeol berhenti berfungsi.
“Annyeong, Chanyeol-ya!” Sapanya masih dengan senyuman yang terlihat sangat tulus serta mata yang melengkung menunjukkan ‘Eye Smile’-nya. Aah.. Itulah senyuman yang selalu ada di pikiran Chanyeol. Ia sangat merindukan senyuman itu.. Sangat..
Seketika Chanyeol membeku. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia lari begitu saja dari yeoja yang dari tadi pagi terus saja menyapanya dengan senyuman hangat? Atau ia harus terjun dari apartemen lantai 12 ini? Tidak, ia tidak mungkin melakukannya. Sadar terlalu lama terdiam, Chanyeol segera mengambil kunci apartemennya tanpa mengiraukan An Ra yang berada di depannya, dan baru saja ia hendak membukanya, An Ra menyentuh pergelangan tangan Chanyeol. Dan ia yakin saat ini juga jantungnya akan menciut dan berubah seperti daun yang beterbangan.
“Wae geurae?” Tanya An Ra polos. Ada apa? Ada apa dengan dirinya? Apa ia harus menceritakan masa lalunya yang sama sekali tidak berarti untuk yeoja itu? Tidak! An Ra tidak perlu mengetahuinya.
“Gwenchana.” Jawab Chanyeol dingin, itu adalah kata yang pertama kali ia ucapkan pada An Ra. Ia baru ingin melangkahkan kakinya satu langkah saja, tapi An Ra menahannya lagi.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak menyukaiku?” Tanya An Ra lagi. Nadanya terdengar sangat menyesal. Nara tidak marah sama sekali atas sikap Chanyeol, dan ia tahu An Ra tidak akan marah padanya. Karena ia mengetahui jelas sifat An Ra. Ia terlalu mengenal An Ra.
“Katakan padaku.. Apa aku pernah berbuat salah padamu? Kenapa kau seperti ini Chanyeol-ya?” Tangan An Ra sedikit meregang, dan perlahan melepasnya. “Baiklah.. Mianhae jika aku berbuat salah padamu. Dan mianhae karena telah mengganggu waktumu.” Sambungnya. Yeoja itu kemudia pergi, dan tidak lama kemudian Chanyeol memanggilnya.
“An Ra-ya!” Panggil Chanyeol. Nara menoleh dan membalikkan badannya, menunggu apa yang ingi diucapkan Chanyeol. “Kau.. Kau tidak pernah berbuat salah padaku. Aku hanya.. hanya gugup jika seseorang bersikap ramah padaku.” Alasan ini jelas-jelas salah. Ia sangat bodoh, bagaimana ia bisa berbicara seperti itu sementara tadi yeoja itu melihatnya sangat akrab dengan Sehun, Baekhyun dan yang lainnya. Apa itu yang disebutnya gugup?
Chanyeol menatap wajah An Ra yang sekarang sedang melemparkan senyum ‘lagi’ padanya. Dan kali ini, untuk pertama kalinya Chanyeol menjawab senyuman itu dengan kikuk. “Tidak usah gugup padaku, anggap saja aku ini teman baikmu. Oke?” Rupanya An Ra tidak menyadari alasan bodoh yang baru saja Chanyeol katakan.
“Ne.” Jawab Chanyeol, jelas-jelas sangat kikuk.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat malam!” An Ra membungkukkan badannya sedikit dan segera pergi.
Sedangkan Chanyeol? Bagaimana dengan kegugupannya? Ia hampir jatuh ke lantai kalau saja ia tidak menahan tubuhnya pada tembok. Entah kenapa, hanya berbicara pada An Ra saja ia harus mengumpulkan tenaganya dulu. Bahkan hanya menatapnya saja darahnya serasa tidak mengalir. Kenapa ia begitu gugup pada yeoja itu?
***
Pukul 08:00 tepat An Ra sudah sampai di depan sekolahnya, lengkap dengan seragam dan peralatan sekolahnya. Padahal sekolah dimulai jam 09:00. Hari ini ia memutuskan datang ke sekolah lebih awal, ia ingin sedikit menemukan ketenangan di atap sekolahnya. Beberapa menit kemudian langkahnya berhenti di sebuah tempat yang sering ia kunjungi, tempat favorit yang mungkin hanya ia yang menyukainya. Hembusan angin musim Semi membuatnya hanyut dalam ketenangan suasana tempat ini. Nara membawa biola kesayangannya dan duduk di kursi tua yang sudah berkarat. Ia membuka wadah biola itu dan mulai memainkannya. Ya, Kim An Ra, selain pintar dalam pelajaran sekolah, ia juga menguasai dunia seni, dan juga bisa memainkan berbagai alat musik. Ditambah wajah berparas cantik, lagi sikap ramah dan hangat yang selalu ia tunjukkan kepada semua orang. Sangat sempurna, eoh? Kim An Ra adalah anak konglomerat yang orang tuanya sering berpindah tugas, sekarang ia harus tinggal sendiri di Seoul karena orangtuanya harus pergi ke Kanada. An Ra adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kakaknya yang sekarang sudah bekerja dan sudah menikah, memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Perancis. Dan di Seoul, ia benar-benar sendiri, tidak ada satupun saudara yang ia punya di Seoul. 3 tahun yang lalu, ia terpaksa pindah ke China karena orangtuanya harus bekerja disana. 1 tahun kemudiannya ia harus pindah lagi ke Seoul, kota kelahirannya karena ia memutuskan untuk tinggal di Seoul. Dan ia ingin hidup mandiri. Ayah dan Ibunya tidak mengajarkannya untuk hidup manja meskipun An Ra adalah anak konglomerat. An Ra sangat sederhana, seperti orang biasa.
Gesekan demi gesekan biola itu secara tidak langsung mewakili perasaannya. Entah itu senang, sedih, ia selalu menumpahkannya pada biola. Seperti saat ini, saat ini ia sedang menggesekkan biola dengan sebuah perasaan yang.. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan.
Tiba-tiba permainan biolanya berhenti begitu ia mendengar suara pintu terbuka, yang tak lain adalah pintu yang membawanya ke atap sekolah. Siapa yang datang? Setahuku tidak pernah ada yang datang ke tempat ini terutama pagi-pagi begini selain aku. Pikirnya. Matanya tetap mengarah pada pintu itu, melihat siapa yang akan datang. Dan tak lama kemuadian, aah.. Chanyeol. Kenapa ia bisa tahu tempat ini?
“An Ra-ya?” Panggil Chanyeol.
“Ne?” Sahutnya. Tampaknya sekarang Chanyeol tidak terlalu gugup lagi padanya. Chanyeol berjalan ke tempat An Ra duduk.
“Sedang apa kau disini?”
***
Chanyeol menjelajahi gedung sekolah yang tampak sepi itu. Ia bosan setengah mati karena tidak ada satupun orang yang datang. Akhirnya ia menjelajahi sekolah ini dan menemukan pintu di lantai 3. Seperti biasa, Chanyeol mudah penasaran dan akhirnya ia membuka pintu tersebut. Sedikit kotor dan berdebu. Mungkin wajar saja, karena sepertinya tidak ada orang yang mau datang ke tempat ini. Chanyeol membuka pintunya perlahan, dan pandangannya tertuju pada seorang yeoja yang sedang melihat ke arahnya. Kim An Ra. Kenapa belakangan ini ia selalu bertemu dengan yeoja itu?
“An Ra-ya?” Panggilnya. Memastikan memang benar itu Nara.
“Ne?” Aah, rupanya benar. Entah darimana keberanian Chanyeol untuk melangkahkan kakinya mendekati yeoja itu.
“Sedang apa kau disini?” Tanyanya.
“Aku bosan, dan aku menjelajahi sekolah ini.” Chanyeol tersenyum dan menampakkan gigi putihnya. Chanyeol terlihat sangat lucu saat tersenyum, selain karena lesung pipinya, ia juga terlihat seperti anak kecil. Lain lagi saat ia begitu dingin, ia terlihat sangat cool dan manly.
“Duduklah,” An Ra menyuruh Chanyeol duduk di sebelahnya, dan Chanyeol pun duduk di sebelah yeoja itu.
“Kau sedang apa disini?” Tanya Chanyeol balik.
“Aku selalu datang ke tempat ini jika aku sedang bosan atau sedang merasakan apapun. Kau tahu, tempat ini adalah tempat favoritku.” An Ra menyunggingkan senyumnya. Tanpa sadar Chanyeol terus memandanginya. Dan ia baru sadar, ia tidak pernah bosan memandangi wajah Kim An Ra.
An Ra mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone. “Mau mendengarkan musik? Kau harus mendengarkan lagu ini. Lagu ini adalah lagu favoritku dulu.. Entah kenapa aku tidak pernah bosan mendengarkan lagu ini.” An Ra menyodorkan sebelah earphonenya. Dan sebelahnya lagi dipasang ditelinga An Ra. Chanyeol pun memasangnya.
Lagu ini.. Tunggu, lagu ini adalah lagu favoritku dengannya dulu. Benar! Lagu ini. Lalu kenapa dia masih menyukai lagu ini? Bukankah dia sudah.. Ah, astaga. Pikiranku mulai bercabang lagi sekarang. Sesaat, suasana menjadi sangat tentram. Chanyeol merasa nyaman, ia ingin terus seperti ini. Ia ingin terus berada di sisi Kim An Ra.
Suara bel tanda masuk kelas terdengar samar dari lantai 2. “Hei, sepertinya sudah bel, eoh?” An Ra melepas earphonenya dan menghentikan musiknya. Chanyeol hanya mengangguk.
SKIP
Chanyeol menyetir mobilnya menuju apartemennya. Perasaannya campur aduk sekarang. Rasanya seperti nano-nano (?). Apakah ia harus terus menghindar dari Kim An Ra? Atau ia harus mulai melupakan masa lalunya dan berteman dengan An Ra? Satu yang ia khawatirkan. Ia takut jatuh cinta untuk kedua kalinya pada yeoja itu. Meskipun memang kenyataannya ia jatuh cinta lagi pada yeoja itu.
Sesampainya di apartemen, ia menemuka An Ra sedang bersandar di pintu apartemennya dengan mulut ditekuk. “Kenapa kau tidak masuk ke apartemenmu?” Tanya Chanyeol. Ia lihat, An Ra sangat terlihat dongkol. “Kunci Apartemenku.. Aku lupa menaruhnya..” Lirihnya. Lalu bagaimana ini? Apa yang harus Chanyeol lakukan? Meninggalkannya begitu saja? Tidak mungkin. Bagaimana pun ia masih manusia, ia tidak akan bisa bertindak seperti itu.
“Kalau begitu.. Masuklah ke apartemenku.” Entah keluar dari mana kata-kata itu, Chanyeol mengatakannya begitu saja. Sial, bagaimana kalau An Ra menganggapnya sebagai namja genit yang baru satu hari mengenal An Ra sudah menyuruhnya masuk ke apartemen? Bodoh.
An Ra menatap Chanyeol dengan sedikit memiringkan kepalanya. Ia sangat lucu, seperti boneka walaupun matanya agak sipit. “Hmm, memangnya kau tidak keberatan kalau aku masuk?” Tanya An Ra. Sepertinya An Ra tidak menolak ajakan Chanyeol, ia hanya ragu jika namja itu keberatan.
“Aah, tidak. Silahkan saja.” Chanyeol menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal sambil tersenyum kikuk. Ia sangat kikuk, sangat kikuk.
***
An Ra menyandarkan tubuhnya pada pintu apartemennya. Kunci apartemennya entah berada dimana sekarang, ia lupa menaruhnya. Dan sekarang ia harus apa? Tidak lama kemudian seorang namja yang sudah ia kenal berjalan ke arahnya. Aah, sekarang ia merasa agak tenang. Eh? Kenapa ia merasa tenang? Aigoo.. Kenapa selalu seperti ini jika melihatnya?
“Kenapa kau tidak masuk ke apartenmu?” Tanya Chanyeol.
“Kunci apartemenku.. Aku lupa menaruhnya..” Apa? Sekarang kenapa nada suaranya sangat lirih? Sial.
“Kalau begitu.. Masuklah ke apartemenku,” Apa ia tidak salah dengar? Chanyeol mengajaknya masuk? Padahal baru kemarin Chanyeol bersikap dingin padanya. Tidak ada sedikit pun pikiran buruk yang terbesit saat Chanyeol mengajaknya masuk. Ia hanya ragu, jika saja ia merepotkan namja itu.
“Memangnya kau tidak keberatan kalau aku masuk?” Tanyanya.
“Aah, tidak. Silahkan saja.” Chanyeol sangat lucu saat ia menyunggingkan senyuman kikuknya. Bahkan saat pertama kali melihatnya, ia merasa namja itu sangat lucu dan sangat.. Sangat familier. Kenapa bisa begini, padahal ia baru mengenal namja ini satu hari yang lalu. An Ra mendongak untuk bisa menatap Chanyeol, karena Chanyeol sangat tinggi. Sedangkan tinggi An Ra hanya semulut Chanyeol.
“Baiklah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar