Blogger Widgets
animasi bergerak gif
My Widget
cara pasang animasi naruto dan sasukebergerak gif di blog
Animasi Naruto
Oheylnio!: November 2014

Selasa, 25 November 2014

Zimity

setelah aku keluar dari sekolah dasarku. di sinilah aku berpijak. di sebuah pesantren bernama benda. awalnya aku berfikir aku tidak ingin mempunyai teman lagi seumur hidupku selain bersama teman teman sekolah dasarku dan memutuskan untuk menjadi pendiam seumur hidupku ada di sana.

nama angkatanku adalah gremicsent, awalnya. tapi sekarang telah di ganti menjadi Zimity. ternyata,, setelah aku berada di sana cukup lama, aku berfikir bahwa segala sumpah serapahku di awalku berpijak hanya omong kosong belaka. aku idak dapat memungkirinya bahwa aku memang tinggal disini bersama teman emanku. tapi meskipun begitu aku tidak akan pernah melupakan teman temanku di sekolah dasarku tercinta. dimana semuanya terasa sangat bebas tanpa masalah dalam hidup karena begitu polosnya seorang anak kecil. tapi disini, aku bersama zimity memang harus menempuh berbagai kendala hidup dan masalah yang harus di pecahkan bersama. di balik semua kesukaran di dalamnya. aku meyakini bahwa kesulitan yang aku hadapi kini adalah untuk bekalku di masa depan nanti. aku baru menyadari jika masuknya aku di sini memang tidaklah sia-sia. oleh karena itu aku sangat berterima kasih kepada kedua orang tuaku yang senantiasa mendukungku dengan segala jerih payah mereka.

Gajah-Tulus

Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal
Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit berangka
Wajahmu tak akan pernah ku lupa
Waktu kecil dulu mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah, ku marah
Kini baru ku tahu puji di dalam olokan
Mereka ingat ku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku
Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil kita tak tahu apa-apa
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

Greatestsixth



sekilas tentang sekolah dasarku. pada masa ini adalah masa masa paling hebat dalam hidupku bersama mereka teman teman terbaikku meskipun sekarang kami telah pergi ke jalan masing masing. tawa canda dan kepolosan seorang anak ingusan masih terngiang ngiang dalam benakku. aku merindukan mereka. sangat

My Best




Gone

  • Tittle : Gone
  • Oleh: Rifka Fadhilah
  • Cast : Xiumin, Kim You Jung
  • Genre : Romance, Sad.
  • Author : Ini saya author ter absurd sepanjang jalur pantura-_- Park Ah Rin
  • Lenght : OneShoot

Annyeong, piye kabare, kumaha damang? (?) :v heheh. Maaaaappp yang sebesar rumah suho/? Author baru bisa ngepost ff ini L Soalnya author lagi disibukkin sama buku Ramadhan -_- maap buat yang nungguin ff abstrak bin gajah mada korishiwa/? ini, baru bisa dipost sekarang L
Oke.. Langsung baca aja yeth ^^

*YANG NGGA KENA TAG, BERARTI BELUM BERTEMAN CHINGU ^^*

Warning! Siapkan sabuk pengaman, rem dan lampu sen anda karena virus typo berada dimana-mana :v Dilarang keras mengcopy+paste hasil karya author :3 Dan jangan lupa kasih kritik sarannya :D

.
.
.
.
Summary : Jika aku boleh berharap, harapanku hanya satu. Aku ingin melihatmu sekali saja dalam hidupku.. Bisakah?

*Kim You Jung POV*

Aku terduduk di depan rumahku, menatap langit yang sama sekali tidak bisa kulihat. Semuanya gelap, hanya kegelapan yang selama ini bisa kulihat. Yah, benar. Aku adalah yeoja yang buta. Bahkan aku tidak pernah melihat wajah orangtuaku dan wajahku sendiri. Terakhir kali aku bisa merasakan keberadaan orangtuaku saat 4 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya mereka meninggalkanku sendirian untuk selamanya. Meninggalkan aku yang selalu kesepian, tidak bisa hidup seperti yeoja normal lainnya.

Demi tuhan, aku ingin seperti yeoja lainnya yang bisa melihat kehidupan dengan sangat nyata. Tanpa ada batasan fisik apapun sepertiku. Aku ingin seperti yeoja lain, merasakan jatuh cinta dan hidup bahagia. Apa yang salah denganku? Kenapa tuhan menakdirkanku tidak bisa melihat kehidupan yang orang bilang sangat indah ini?

“Nona Young Jung. Mobilnya sudah siap, anda harus segera berangkat.” Ucap salah satu bodyguardku. Ini sudah waktunya aku pergi dari rumah ini dan tinggal di rumah Ahjussi-ku, karena beberapa hari yang lalu nenekku dilarikan ke rumah sakit. Nenekku terserang penyakit jantung, dan ia takut tidak ada yang menjagaku di rumah. Itulah sebabnya nenek menitipkanku pada Ahjussi-ku.

“Ne.” Jawabku pelan.
Perlahan aku duduk di kursi belakang, tentu saja mengandalkan rabaan tanganku meskipun bodyguardku sudah membukakan pintu. Semua yang ku sentuh terasa semu. Rasa takut sesekali menghinggapiku saat aku menyentuh sesuatu yang baru ku sentuh dan merasa sendirian. Aku benci sendirian, tapi kenyataannya berbanding terbalik, aku selalu sendirian.

Angin hangat menerpa wajahku. Nyaman. Itulah yang kurasakan saat merasakan hembusan angin. Mungkinkah ini yang orang sebut musim semi? Dimana tanaman akan tumbuh dengan indahnya dan angin berhembus hangat. Jika benar, aku sangat menyukainya. Musim semi selalu membuat hatiku nyaman. Seperti benar-benar melihatnya. Aku bisa membayangkannya..

“Nona Young Jung, anda sudah sampai.” Ucap bodyguardku lagi. Aku hanya mengangguk kecil dan menunggu bodyguardku membukakan pintu untukku.
Aku melangkahkan kakiku, lurus seperti biasanya. Aku sudah hapal jalan ini, karena aku sering menginjakkan kakiku disini.

“Selamat siang Nona Young Jung,” Sapa seorang namja berusia paruh baya. Entah ia menundukkan kepalanya yang orang sebut sebagai tanda hormat atau tidak, aku tidak pernah menghiraukannya. Aku selalu bersikap dingin.



***



*Kim Min Seok POV*


Dentingan piano yang terasa indah di dengar itu dihasilkan gerakan tanganku yang sedang menari-nari diatas tuts-tuts piano. Ya, aku namja yang termasuk beruntung mempunyai keluarga yang lebih dari kata ‘mampu’, yang setiap hari disibukkan dengan jadwal kursus dan kursus. Tanpa bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayaku. Aku selalu mendapat larangan dari kedua orangtuaku untuk bermain bebas dengan teman-temanku. Entahlah, aku tidak yakin aku punya seorang teman.

Pandanganku tiba-tiba berpindah pada seorang yeoja yang sedang berjalan tanpa menengok sedikit pun kearahku. Yeoja itu hanya menatap lurus jalan yang akan ia injak. Entah kenapa aku tertarik untuk terus melihatnya. Sebenarnya dia bukan yeoja pertama yang pernah kulihat, aku sering melihat yeoja lain yang lebih cantik dan menarik daripada yeoja tadi. Tapi entah mengapa semua yeoja yang lebih cantik dan menarik dari yeoja tadi tidak membuatku tertarik sedikitpun. Dan malah yeoja ini yang membuatku tertarik. Ada apa denganku?

“Kim Min Seok! Perhatikan notnya!” Suara bentakan dan juga suara piano dipukul keras berhasil membuyarkan lamunanku tentang yeoja tadi.

Aku juga berhasil membuat Jun Hyun Sik-ssi naik darah seperti biasanya. Guru tua itu selalu berlaku kasar, dan aku sedikit tidak menyukainya. Terkadang guru menyebalkan itu memarahiku tanpa alasan. Entahlah, aku tidak mengerti dengan isi kepalanya. Mungkin karena ia sudah tua, jadi mungkin ia sering terbawa emosi.

“Ah, ne. Mianhae.” Aku kembali memfokuskan pandanganku pada not-not piano yang berada tepat di depan mataku. Walaupun sejujurnya ia masih ingin melihat yeoja tadi.

Aaah, bagus. Jun Hyun Sik-ssi sedang tidak memperhatikanku. Jadi aku bisa melihat yeoja itu lagi. Aku menelusuri taman yang terhampar luas dan mencoba mencari yeoja tadi dari jendela. Kemana yeoja itu?

Oh, itu dia. Ia sedang terduduk sambil melihat kebawah. Seperti tadi, ia melihat rumput-rumput yang sedang ia injak. Mataku semakin tertarik untuk melihatnya, sehingga membuatku melupakan Hyun Sik-ssi yang akan segera mengamuk seperti beruang kelaparan jika melihatku tidak memperhatikan not yang ia berikan untuk kedua kalinya.

Aissshh, aku tidak mau Hyun Sik-ssi mengamuk lebih parah lagi. Jadi aku memutuskan untuk memperhatikan not piano saja.

“Baiklah. Kursus kali ini sampai disini saja.” Ucap Hyun Sik-ssi tiba-tiba. Seperti biasa juga, ia menentukan berakhirnya waktu kursusku sesukanya.

Aku membereskan isi tasku yang penuh dengan not piano dan memasukkan not piano baru yang Hyun Sik-ssi berikan padaku tadi. Aku pun segera pergi dari ruangannya.

Aku berjalan dengan bodyguardku yang sudah 2 tahun ini selalu mengikutiku kemana pun aku pergi. Inilah yang selalu membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak bebas melakukan apapun sesukaku. Hidupku penuh dengan aturan.

Pil yang sudah tidak asing lagi kugunakan baru saja hendak ku telan saat mataku menangkap sosok yeoja tadi. Aah benar, ini yeoja yang sedari tadi kuperhatikan dari jendela ruangan kursus. Aku berpapasan dengannya. Tapi yeoja itu terlihat sangat dingin, tidak menunjukkan senyumannya sedikitpun. Seperti yang tadi ia lakukan, ia hanya menatap lurus jalan dan tidak memandang sekelilingnya.

Yeoja ini terasa asing bagiku karena memang aku baru pertama kali melihatnya. Mungkin dia baru saja kursus disini, jadi aku baru melihatnya.

“Hei, kau tahu siapa namanya? Apa dia baru kursus disini?” Tanyaku pada bodyguardku.
“Sudah jalan! Jangan tanya macam-macam!” Bentak bodyguardku. Menyebalkan! Aku lebih suka bodyguardku yang sudah berusia setengah baya dari pada bodyguardku yang ini. Benar-benar menyebalkan!



________________________________________________________________




1 day later..

Aku melangkahkan kakiku kembali di taman yang cukup luas yang tak lain adalah tempat kursusku. Di ambang pintu masuk, sudah tidak asing lagi terdapat namja setengah baya yang menyambutku. Namja setengah baya itu membungkukkan badannya pertanda memberi hormat. Aku pun membungkukkan badanku, dan berjalan ke dalam tempat kursusku.

Pelayan rumah itu mempersilahkanku duduk sementara aku menunggu Hyun Sik-ssi yang sedang mengajari seorang yeoja bermain piano. Sepertinya aku datang terlalu cepat hari ini.

Aku mendengar pukulan keras yang biasa kudapatkan saat diajari oleh Hyun Shik-ssi. Aissshhhh, guru tua itu. Apa ia juga tega memukul seorang yeoja yang sedang bermain pia..

Eh? Yeoja itu lagi. Sedang apa ia disini? Bukankah kemarin ia datang setelah kursusku selesai? Apa mungkin jadwalnya berubah secepat itu? Banyak sekali pertanyaan yang kini bermunculan dari isi kepalaku. Bahkan terlalu banyak sampai aku sendiri tidak bisa menepisnya dengan perkiraanku.

Aku memperhatikan yeoja itu yang terus saja menatap tuts piano, bukannya malah memperhatikan not. Ia terlihat sangat takut dengan Hyun Sik-ssi. Jujur saja, sebenarnya aku juga sering merasa takut saat belajar dengan Hyun Sik-ssi. Aisshhh, kenapa ia tidak melihat notnya? Bahkan ia terjatuh sekarang karena pukulan Hyun Sik-ssi yang terus didaratkan di punggung yeoja itu. Yeoja itu hanya menunduk sambil terus meraba-raba lantai. Disekelilingnya terdapat beberapa buah permen yang tadi terjatuh dari tempatnya.

Kenapa yeoja itu tidak segera berdiri? Kenapa yeoja itu malah menunduk sambil meraba-raba lantai? Apa yang ia lakukan? Dan saat aku bertanya-tanya dalam hati tentang yeoja itu, pikiranku tiba-tiba berkata bahwa yeoja itu buta. Mungkinkah?

“Ahjussi, apa dia.. Apa dia buta?” Tanyaku kepada bodyguard paruh baya yang sering kupanggil ‘Ahjussi’ itu.

“Ssstt.. Tuan, jangan berkata terlalu keras.” Ahjussi mengisyaratkan agar aku tidak terlalu keras saat berkata seperti itu. Aku mengerti, mungkin Ahjussi takut yeoja itu mendengar percakapan kami.

Jadi benar.. Itu sebabnya yeoja ini selalu memandang lurus jalanan, tanpa melirik ke kiri atau ke kanan sekali pun. Kini yeoja itu mencoba bangkit dengan meraba-raba kursi yang berada di dekatnya dan kembali duduk di sana.

Aku harus menghiburnya. Entah kenapa ide gila itu muncul dari otakku. Tentu saja ini ide gila. Aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana aku bisa menghiburnya? Yeoja itu pasti akan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Tapi rasa iba ku menutup pikiran rasionalku tentang ide gila tadi. Saat Hyun Sik-ssi meninggalkan ruangan itu, dengan cepat aku memasuki ruangan itu dan duduk di sebelah yeoja itu.

Aku memainkan jariku dengan mahir diatas tuts piano, membuat yeoja itu sedikit kaget. “Tenang saja, aku akan membantumu bermain piano,” Bisikku. Yeoja itu masih bingung dengan keberadaanku. Wajahnya masih terlihat heran saat aku berada di sebelahnya dan memainkan piano.


Tap.. Tap..


Langkah kaki itu sontak membuatku berlari panik ke belakang piano tanpa meninggalkan bunyi langkah kaki sedikitpun. Pasti itu Hyun Sik-ssi. Ya, ia tampaknya tidak menyadari keberadaanku yang sedang bersembunyi di belakang piano. Ia hanya heran karena bunyi piano yang kumainkan tadi. Bisa kudengar lagi, langkahnya kini terdengar semakin jauh. Sepertinya ia sudah pergi. Aku pun mengintip memastikan Hyun Sik-ssi benar-benar pergi. Lalu kembali duduk disamping yeoja itu.


DEGGG!


Aissshhh.. Jantungku.. Jantungku kembali terasa sakit. Aku menyentuh daerah jantungku, mencoba menahan rasa sakit yang begitu hebat yang sering sekali kurasakan sebelumnya. Aiiihhhh.. Untung saja yeoja ini tidak bisa melihatku, aku tidak mau membuatnya panik. Aku meraba saku celanaku, mengambil pil untuk meredakan rasa nyeri pada jantungku, dan menelannya.

“Apa itu?” Tanya yeoja itu. Kalimat pertama yang ku dengar dari mulutnya.

“Aaah.. Ani. Ini.. Ini hanya permen.” Aku meraih permen yang serupa saat yeoja ini terjatuh dan meraba-raba lantai mencoba bangkit.

“Aa, buka mulutmu,” Ucapku masih mencoba menahan rasa nyeri. Yeoja ini membuka mulutnya, aku pun memasukkan permen ke dalam mulutnya.

Terlihat seulas senyum manis yang entah kenapa bisa membuat jantungku yang masih terasa nyeri berdetak lebih cepat. Aku pun ikut tersenyum saat yeoja ini tersenyum. Entahlah, aku tidak tahu kenapa seperti ini.



*Kim You Jung POV*


“Bodoh! Notnya salah! Sudah ku katakan raba tuts pianonya!” Bentak Ahjussi. Aih, punggungku sakit, daritadi ia memukuli punggungku dengan alat runcing yang panjang miliknya. Entah benda apa itu.

Aku hanya menunduk, aku tidak bisa bermain piano! Aku tidak bisa! Haruskah aku berteriak pada Ahjussi bahwa aku tidak bisa bermain piano?! Tidak, seumur hidupku aku tidak pernah berteriak. Bahkan bicara saja sangat jarang. Aku tidak ingin berteriak, tapi Ahjussi memaksaku seperti ini, membuatku ingin berteriak sekarang juga.

“Sudahlah. Percuma saja mengajarimu! Melihat saja kau tidak bisa!”

 Bahkan Ahjussi membenciku karena aku buta. Apa yang harus aku lakukan selain diam berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja Ahjussi katakan? Benar, aku yeoja buta yang tidak dapat melakukan apapun selain diam menyendiri. Apa yang bisa aku lakukan? Batinku.

Dengan satu pukulan lagi dari Ahjussi, aku sudah jatuh ke lantai. Bahkan sekarang aku merasa sangat rendah. Aku hanya bisa menunduk, meraba, mencoba bangkit untuk duduk kembali. Batinku menjerit, berkata bahwa aku membenci hidup ini. Sangat membenci hidup ini.

Tiba-tiba aku merasakan langkah seseorang mendekat, dan duduk di sampingku. Siapa dia?

“Tenang saja, aku akan membantumu bermain piano.” Bisik seseorang itu. Sepertinya dia seorang namja. Namja itu pun memainkan piano, membuatku bertambah heran. Kenapa namja ini mendekatiku? Dan kenapa namja ini ingin menolongku?

Beberapa menit kemudian suara langkah kaki seseorang terdengar, dan bisa ku rasakan, namja yang berada di sampingku tadi segera berlari entah kemana. Meninggalkanku dan bunyi langkah kaki itu. Entah siapa yang berjalan, tapi tampaknya dia tidak menyadari keberadaan namja tadi yang berada di sampingku.

Langkah kaki yang terdengar tepat di belakangku itu kembali terdengar, namun kali ini terdengar semakin kabur. Sepertinya dia sudah pergi. Aah, lalu apa namja yang tadi duduk disampingku akan kembali lagi?
Seolah terjawab, namja itu duduk kembali di sampingku. Dan kembali memainkan piano. Tampaknya namja ini sangat mahir, nada-nada yang ia hasilkan sangat enak didengar. Tentu saja, karena ia bisa melihat not dan tutsnya dengan jelas.

Ckrek..

Suara yang menyerupai sesuatu berbahan plastik dibuka itu membuatku terdiam dan bertanya. Namja ini memakan permen?

“Apa itu?” Aku memberanikan diri menanyakannya pada namja itu. Aku juga mendengar desahan berat dari mulut namja itu. Ada apa dengan namja ini?

“Aaah.. Ani. Ini.. Ini hanya permen.” Mungkin benar. Itu hanya permen, tidak ada benda plastik yang kudengar terbuka. “Aa, buka mulutmu,”

Entah bibir ini terkutuk mantra sihir namja ini atau apa. Aku dengan mudahnya membuka mulutku. Kenapa jadi seperti ini? Bukankah aku adalah yeoja yang dingin? Tapi saat bersama namja ini aku merasa bukan diriku sendiri. Aku seperti yeoja dengan kepribadian ceria, seperti yeoja lainnya. Bodoh, aku bahkan belum mengenalnya!

Lidahku mengecap benda yang namja tadi sebut permen. Manis. Tentu saja, tapi rasa manis permen ini didominasi dengan rasa senang sekarang. Tanpa sadar bibirku mengulaskan senyum. Entah senyum jenis apa, seperti aku baru pertama kalinya memakan permen. Aku terlihat seperti anak kecil sekarang.

“Siapa namamu?” Tanya namja itu, lagi-lagi membuatku sedikit kaget.

“Kim Young Jung imnida.”Aku tersenyum, meskipun aku tidak yakin wajah namja itu ada di depanku. “Neo?” Tanyaku balik. Sekali lagi, aku hanya berbicara lurus ke depan, karena aku tidak tau namja itu berada dimana.

“Kim Min Seok imnida. Panggil saja aku Xiumin.” Jawabnya ramah. Namja ini sangat baik.

“Baiklah, sesuai janjiku. Aku akan mengajarimu piano. Pertama-tama.. Kau harus merileks-kan tanganmu, bla bla bla bla bla.”
Saat namja itu menerangkan panjang lebar padaku, aku merasakan namja itu mulai memainkan jariku diatas tuts piano. Membimbing tanganku untuk mengikuti tangannya.


Deg deg deg deg deg..


Astaga.. Jantungku, kenapa berdetak sangat cepat? Sesaat kemudian aku baru menyadarinya. Xiumin memegang tanganku. Ya! Dia memegang tanganku. Tangan Xiumin terasa hangat dan.. Nyaman. Mungkin pikiranku sudah terlalu sibuk berpikir sehingga aku sama sekali tidak menarik diri darinya. Aku seperti orang lain, bukan diriku sendiri. Tapi aku merasakan banyak kesenangan dengan Xiumin. Meskipun aku baru bertemu dan mengenalnya beberapa menit yang lalu. Entahlah, mungkin otakku sudah berhenti berfungsi.



________________________________________________________________




*Author POV*


“Ssstt..” Bisik Xiumin pada You Jung. Jelas-jelas ia harus berhati-hati, ia bisa dibawa oleh bodyguardnya jika mereka mengendus keberadaannya disini. Ia hanya ingin membawa You Jung sedikit melepaskan bebannya, di taman ini. Taman favoritnya di tempat kursus.

Xiumin mengintip di balik tembok layaknya seorang penguntit. “Kajja! Kajja!” Bisiknya lagi. Aissshhh, ia lupa You Jung tidak bisa melihat.
Xiumin segera menarik tangan You Jung dan menariknya untuk duduk di taman. Dan kembali membuat jantung You Jung berdegup kencang seperti biasanya.

Sudah sekitar 3 bulan ia mengenal You Jung, dan buta bukanlah halangan untuk menyukai yeoja itu. Ya benar, Xiumin menyukai yeoja itu. Yeoja yang selalu membuatnya tersenyum belakangan ini. Entah bagaimana ceritanya, ia selalu merasa nyaman jika berada didekat yeoja itu. Sedikit-sedikit ia sudah tau bagaimana masa lalu You Jung, dan ia semakin ingin menjaga yeoja ini. Xiumin tidak pernah tenang jika meninggalkan You Jung sendirian, ia tahu bagaimana takutnya You Jung saat sendirian. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan hanya untuk teriak saja ia tidak bisa. Sejak itulah, sejak rasa sayangnya kepada You Jung semakin kuat dan, ia berjanji untuk selalu melindungi You Jung. Meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana cara melinduginya.

“Xiumin-ya?” You Jung yang kini sedang duduk berhadapan dengan Xiumin meraba-raba kedepan. Mencari keberadaan Xiumin.

“Ne, aku disini.” Nada suaranya itu.. Nada suara Xiumin selalu berhasil membuat hati You Jung merasa tenang.

“Bolehkah aku..” You Jung ragu untuk melanjutkan permintaannya. Ia hanya takut Xiumin tidak ingin melakukan permintaannya.

“Ne? Kau mau apa, You Jung-ya?”

“Bolehkah aku menyentuh wajahmu sebentar saja?” You Jung ingin melihatnya. Tapi itu sangat mustahil, jadi You Jung hanya ingin menyentuh wajahnya.
Terdengar nada irih dari suaranya. Aaah, andai ia bisa menghapuskan kesedihan di benak You Jung..

“Ne, tentu saja.”

You Jung mengulurkan kedua tangannya ke depan wajah Xiumin. Tangannya terasa sangat gemetar, hingga akhirnya ia bisa menyentuh wajah Xiumin dengan kedua tangannya. Ya, ia menyentuh wajah Xiumin meskipun ia tidak bisa membayangkan wajah Xiumin.

Xiumin merasa sangat tenang.. Kedua tangan yang sedang menelungkupkan jarinya di wajah Xiumin terasa sangat hangat. Ia ingin terus seperti ini.. Bersama You Jung. Jika ada bintang jatuh yang datang detik ini juga, ia ingin berharap sesuatu. Ia ingin terus bersama You Jung, ia ingin terus melindunginya..

Xiumin menarik tangan You Jung, melepaskan kedua tangan hangat yang beberapa detik yang lalu berada di wajahnya. Kemudian ia menarik tangan You Jung pada dadanya yang sedang berdegup hebat. Ia melihat You Jung yang sedang tersenyum, senyum yang sama saat pertama kali ia menyuapkan permen ke mulut You Jung. Senyum yang tidak pernah bosan dilihat oleh Xiumin.

You Jung merasakan jantung Xiumin yang berdetak sangat cepat dan tidak beraturan. Sama seperti degup jantungnya sekarang. Hangat.. Sangat hangat. Sekarang, kemarin ataupun besok, ia merasa hidupnya lebih berarti. Dengan keberadaan namja ini disisinya, dengan sikap hangat yang selalu namja ini lakukan padanya. Bosankah? Bosankah namja ini berada disisinya? Saat ini perasaan takut juga senang tengah menjalari otaknya. Ia hanya bisa berharap agar namja ini selalu berada disampingnya, membuatnya tersenyum lebih lama. Namun bisakah yeoja buta sepertinya berharap lebih jauh seperti ini?
Bisakah? Entahlah, harapannya terlalu besar untuk yeoja sepertinya. Xiumin terlalu sempurna untuknya, bahkan Xiumin bisa mencari yeoja yang lebih baik darinya.


DEGG!


Ah! Kenapa saat seperti ini sakitnya muncul lagi? Xiumin memegangi dadanya. Merasakan rasa sakit yang dalam sekejap sudah menjalari dadanya. Ia berharap You Jung tidak merasakan degupan yang berbeda dari jantungnya, ia tidak mau yeoja ini mengetahui penyakitnya. Baru saja ia ingin mengambil pil pereda rasa nyerinya, dua orang ‘penguntit’ sudah berada di depan matanya. Ia benci situasi ini.

“Kau ini! Sudah, pulang!” Omel bodyguardnya. Meskipun ia adalah anak semata wayang di keluarganya, ia tidak berhak memecat dua orang yang sangat menyebalkan yang mereka bilang bodyguard. Demi apapun, ia ingin mengunci rapat-rapat tubuh semua bodyguardnya dan menjerumuskannya ke dalam jurang tersembunyi! -_-

Tanpa omelan yang lebih banyak lagi, kedua bodyguardnya langsung menyeretnya tanpa ampun. Xiumin mencoba memberontak, tapi sia-sia. Ia merasa seperti boneka sekarang. Tidak bisa melakukan apapun, selain berteriak ‘lepaskan’.

Saat ini ia sudah mengabaikan rasa sakit yang sedang menjalari jantungnya. Ia merasakan sakit yang lebih hebat dari sakit itu. Yaitu sakit melihat yeoja yang ia cintai hanya bisa memanggil namanya. Hanya bisa meraba-raba sekitar. Yeoja itu terduduk sambil memegangi pilnya yang terjatuh. Ia berharap sekarang juga ia punya kekuatan ajaib seprti di film fantasy, ia ingin melawan bodyguardnya dan membawa You Jung pergi. Pergi ke tempat dimana tidak ada peraturan yang mengikatnya lagi. Tidak bisakah mereka membiarkannya bahagia sebentar saja bersama You Jung?!

“Xiumin-ya? Xiumin-ya?” Panggil You Jung lirih.

“Lepaskan! Lepaskan! Bodoh, lepaskan aku!” Xiumin masih terus memberontak. Bodoh, sekuat apapun ia mencoba memberontak, ia tidak bisa menghadapi dua tubuh jangkung yang sedang menariknya ini.



*Kim You Jung POV*


“Xiumin-ya? Xiumin-ya?” Aku hanya bisa meraba-raba sekitar. Tanpa bisa melihat Xiumin, tanpa tahu keberadaannya. Kemana dia? Kemana namja itu? Yang aku tahu hanya Xiumin sudah tidak ada disampingku, ia seperti dibawa oleh seseorang.
Apa yang bisa aku lakukan? Tunggu, ini.. Ini seperti pil yang selalu Xiumin gunakan. Kenapa ia tidak membawanya? Sepertinya pil ini terjatuh.

“Lepaskan! Lepaskan! Bodoh, lepaskan!” Xiumin berteriak. Aku bisa mendengarnya.
Astaga, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa seseorang membawa Xiumin pergi? Aku, yeoja yang sangat bodoh ini hanya bisa meraba-raba sekelilingku sambil memanggil namanya. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang bisa aku lakukan?

Sesaat kemudian teriakan Xiumin sudah tidak terdengar oleh telingaku. Apa mungkin ia sudah pergi? Aisssshhh, air tidak berguna ini menetes begitu saja dari kedua mataku. Aku tidak ingin menangis, aku tidak ingin menangis.. Lagipula apa gunanya aku menangis? Apa itu akan membuat Xiumin kembali disampingku lagi? Bodoh, tidak. Itu hanya akan membuatku semakin bodoh.



________________________________________________________________



Hari sudah malam, aku bisa merasakannya. Malam, setelah satu minggu Xiumin tidak datang ke tempatku. Satu minggu setelah Xiumin tidak menghiburku dengan candaannya, tidak membuatku merasakan nyaman dengan kehangatannya. Apa namja itu akan datang lagi? Apa dia sudah bosan menghiburku? Aku merindukannya. Bahkan sudah lama sejak dia tidak berada di sini, disampingku.



***


“You Jung-ya?”
“Ne?”
“Apa kau sudah merasa nyaman sekarang?”
“Ne. Aku merasa nyaman.. Saat berada didekatmu.”
“Jinjja? Kalau begitu aku akan selalu berada di sampingmu. Bolehkah?”
“Tentu saja. Jangan pergi.”
“Jika kau membutuhkanku, berdiamlah di depan piano. Aku akan memainkan piano untukmu.”
“Jinjja? Kau akan datang?”
“Ne, tentu saja.”

Hening.

“Xiumin-ya.. Terimakasih..”


Aku sudah berdiam didekat piano. Aku sudah menunggumu sejak beberapa hari yang lalu. Lalu kenapa kau tidak kunjung datang? Kau bilang akan memainkan piano untukku saat aku sedang membutuhkanmu. Datanglah.. Datanglah.. Aku benar-benar membutuhkanmu.
Gila, benar aku sudah gila memikirkannya sekarang. Mustahil dia datang saat aku membutuhkannya. Mustahil dia datang saat aku kese..


Teng.. Teng.. Teng


Apa? Itu.. Itu suara piano. Ya, aku yakin itu suara piano! Lalu siapa yang memainkannya? Xiumin.. Namja itu kah? Astaga. Khayalanku kini sudah memanjat masuk ke dunia nyata. Mana mungkin bisa terjadi? Ini bukan dunia dongeng seperti yang selalu ada di pikiranku! Mana mungin bisa me..


Teng.. Teng.. Teng..


Bunyi dentingan itu berbunyi kembali. Kali ini nadanya terdengar sangat menyayat, membuatku sejenak melupakan bantahanku tentang siapa yang memainkan piano itu.  Entah kenapa.. Entah kenapa aku merasa itu Xiumin. Ya, yang memainkannya adalah Xiumin. Nada yang ia buat sangat khas, membuatku bisa membedakan siapa yang memainkannya.

Ya, itu Xiumin..

Hatiku yang tadi sempat gelisah, kini hanyut dengan nada dari tangan-tangan yang menari diatas tuts-tus itu. Aku merasa nyaman, dan aku mendapati bibirku bisa tersenyum kembali.


TEEEENNNGGG!


Astaga. Apa itu? Sesuatu yang berat seperti sedang menimpa tuts-tuts piano tersebut. Lalu perasaanku kalang kabut, otakku meracau meluncurkan dugaan-dugaan buruk tentang namja itu. Jangan, kumohon jangan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada namja itu.

Menit demi menit berlalu, aku masih mematung memikirkan Xiumin. Aku hanya terdiam saat ada sesuatu yang bergerak masuk, menimbulkan sedikit kegaduhan, dan kemudian pergi lagi. Entahlah, otakku tidak ingin berpikir lebih jauh lagi tentang namja itu. Kubuang jauh pikiran burukku tentang apa yang sedang terjadi, dan aku menunggunya. Masih menunggunya melanjutkan permainan pianonya.


Teng.. Teng.. Teng..


Xiumin.



________________________________________________________________



*Xiumin POV*

Aku melangkahkan kakiku dengan malas. Berjalan menuju ruang piano yang sering ku datangi. Aku sangat berantakan. Rambutku acak-acakan, bajuku, bahkan aku memakainya secara asal. Satu minggu tanpa yeoja itu, sudah membuatku seperti ini. Membuatku sangat kacau dan merasa tidak berguna. Jelas saja aku menyesali janjiku sendiri, janjiku untuk terus melindungi You Jung. Realitasnya ia sama sekali tidak bisa melindungi You Jung, bahkan berada disampingnya saja aku tidak bisa.


Teng.. Teng.. Teng..


Aku memainkan jariku dengan mahir, menghasilkan nada yang entah bagaimana bisa sangat menyayat hati. Inilah yang selalu bisa ku hasilkan, hanya nada-nada piano yang bisa mewakili perasaanku. Senang, sedih, kecewa, kutuangkan dalam nada-nada piano. Aku terus memainkannya dengan sangat mahir. Dan tanpa sadar permainan pianoku terus melambat, melambat, hingga akhirnya..


TEEENNNGGG!


Semuanya berubah menjadi gelap.




*Author’s POV*

“Cepat! Cepat buka pintunya!” Teriak Ahjussi yang sedang mengangkat tubuh lemah seorang namja.
Pintu mobil segera terbuka, dibantu oleh 2 bodyguard yang membantu mengangkat tubuh lemah namja tadi dan memasukannya ke dalam mobil. Ketiga bodyguard itu terlihat sangat panik, lalu dengan cepat mengendarai mobilnya ke rumah sakit.

“Xiumin-ya! Xiumin-ya! Bertahanlah!”



***



Ini adalah salahnya. Ini semua adalah salahnya. Ia yang memisahkan You Jung dari Xiumin. Ia, Park Hyun Sik, hanya tidak ingin You Jung kehilangan orang yang dekat dengannya untuk kedua kalinya. Hyun Sik tidak ingin You Jung tahu, bahwa Xiumin mempunyai penyakit jantung yang sedang menggerogoti umurnya. Demi tuhan, ia hanya ingin You Jung tidak merasakan rasa sakit seperti dulu, saat You Jung kehilangan kedua orangtuanya. Tapi cara ini salah besar. Ia sangat menyesal.


Teng.. Teng.. Teng..


Dentingan piano kembali terdengar dari ruangan itu. Tentu saja Hyun Sik yang sedang memainkannya.
You Jung, air matanya satu persatu meluncur sambil terus memegangi pil yang satu minggu yang lalu terjatuh didekatnya. Dan bibirnya ditarik keatas, melengkung sempurna. Ia tidak tahu apa-apa, yang ia tahu orang yang bermain musik tetaplah Xiumin.
.
.
.
.
.
.

Gimana Chingu? Seru? Huffftt.. Maaaappp telat banget ngepostnya L soalnya author kan juga lebaran, jadi sibuk :D
WAJIB tinggalin komentar kalian tentang ff ini ^^
Thank’s for Reading, dan saya Tiffany Hwang (?) author terabsurd pamit undur diri, salam olahraga/? -_-

Memories (chap.2)

Oleh: Rifka Fadhilah
Tittle : Memories chap. 2
Author : Kim Tae Rif
Genre : Romance, Comedy, Hurt, etc.
Main Cast : Park Chanyeol, Kim An Ra
Other Cast : Choi Seo Min, Oh Sehun, Byun Baekhyun, etc.

Setelah 2 minggu hibernasi/? Mian buat yang nunggu kelanjutan ff abstrak inn Akhirnya bisa bikin lanjutannya Selamat baca ff absurd saya oke-_- Happy reading~
Warning! Virus typo betebaran
.
.
.
.
.
*Author POV*

Sekarang apa yang harus Chanyeol lakukan? Ia benar-benar tidak bisa membuka pembicaraan. Hanya terdiam sambil memperhatikan yeoja yang sekarang tengah memperhatikan apartemennya. Bodoh, bagaimana jika yeoja itu sebentar lagi merasa bosan?


Chanyeol melangkah menuju dapur, mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan setelah menyuguhi An Ra minum.

“An Ra, kau mau minum apa?” Pertanyaan itu terasa bodoh saat nada kikuk menyertainya.
“Aku? Ah, terserah kau saja,” Jawab An Ra, lalu tersenyum pada Chanyeol. “Chanyeol-ah, bolehkah aku melihat-lihat apartemenmu? Tenang saja, aku tidak akan mengobrak-abrik apapun, atau melihat barang-barang pribadimu.” Kali ini An Ra balik bertanya.
“Tentu. Kau boleh melihat apartemen abstrakku.” Baiklah, sekarang Chanyeol bisa menyingkirkan rasa kakunya dan sedikit membuat An Ra tertawa.
“Apa? Tidak, tidak, apartemenmu sama sekali tidak abstrak. Kau tahu, mungkin kau adalah namja ter-rapih pertama yang ku kenal. Kupikir namja selalu berantakan.” An Ra mengangkat sedikit kedua alisnya dan tertawa kecil.
“Benarkah? Ah, aku sangat beruntung jadi namja rapi pertama yang kau kenal. Hei, tidak semua namja itu berantakan, kau tahu, aku tidak pernah merasa nyaman jika apartemenku berantakan.” Chanyeol balik mengangkat kedua alisnya dan bergerak membelakangi An Ra untuk membuat Capuccino.
“Baiklah, maafkan aku telah menyangka semua namja itu berantakan. Mungkin aku harus mengangkat 2 jempolku untukmu?” Chanyeol membalikkan badannya untuk melihat 2 jempol yang ditunjukkan An Ra. Yeoja itu masih saja konyol seperti dulu.. pikir Chanyeol.
“Itu pantas untukku,” Chanyeol mengangkat 2 jempolnya, mengikuti kekonyolan An Ra dan tersenyum pepsodent/? saat mendapati An Ra tertawa.


Saat ini, tidak ada yang dirasakan Chanyeol selain perasaan nyaman bersama An Ra. Seolah memutar waktu dan melakukan kembali apa yang dulu pernah hilang darinya 3 tahun lalu. Seandainya ia bisa bermain dengan waktu, ia akan menghentikan waktu saat ini juga dan tenggelam dalam candaannya bersama An Ra. Pernahkah kalian merasakan jatuh cinta? Itulah yang sedang dirasakan Chanyeol sekarang, namun ia sangat berat mengakuinya. Hanya karena ia tidak ingin mengukit-ngukit masa lalunya, masa lalu yang menurutnya sangat tidak menyenangkan. Masa lalu terburuk sepanjang hidupnya.

Chanyeol menaruh 2 gelas Capuccino yang masih mengepul dan kembali memperhatikan An Ra yang masih mengamati isi apartemennya. Chanyeol berjalan mendekati An Ra.

“Kau suka alat musik?” Tanya An Ra sambil menunjuk beberapa alat musik modern dan beberapa koleksi gitar.
“Ya, aku sangat menyukai alat musik. Bagaimana denganmu? Apa kau masih menyukai alat musik?”

‘Masih’? Apa yang ia maksud dengan kata ‘masih’? Bodoh, kenapa ia bisa gegabah begitu pada yeoja ini! Menyadari An Ra memandanginya sambil mengernyitkan sedikit dahinya, Chanyeol segera mengulangi pertanyaannya. Tentu saja ia menghilangkan kalimat ‘masih’ dalam pertanyannya sekarang.


“Aaah, maksudku, apa kau menyukai alat musik?”
“Oh, ya, aku sangat menyukai alat musik.” Jawab An Ra. “Kau tahu, dulu ada orang yang selalu setia mengajariku alat musik. Dulu aku sangat payah dalam hal bermusik, dia mengajariku sampai aku bisa memainkan alat musik.”

Kalimat yang baru saja yeoja itu katakan membuat dada Chanyeol terasa sesak. An Ra masih mengingatnya, yeoja itu masih mengingat Chanyeol dengan baik. Tentu saja orang yang dimaksud An Ra adalah dirinya. Chanyeol yang mengajarkan An Ra musik, bagaimana cara memetik gitar, bagaimana cara memukul drum, bagaimana memainkan jarinya diatas tuts piano.



>>>>>>>>>>> Flashback On




“Chanyeol-ya! Ajari aku bermain alat musik, jebal..” Rengek An Ra. Siang itu sepulang sekolah, seperti biasa Chanyeol menemui An Ra di lapangan basket dekat komplek An Ra. Rumah An Ra dan Chanyeol berjauhan, berbeda komplek. Yang mengenalkan mereka berdua tentu saja ayah dan ibunya.

Mereka bekerja sama dalam sebuah proyek bisnis dengan keluarga Chanyeol. Otomatis kedua keluarga konglomerat itu sering mendatangi rumah satu sama lain.

“Arasseo. Memangnya sejak kapan kau menyukai alat musik? Setahuku kau tidak terlalu suka musik.” Chanyeol mengacak-ngacak kecil rambut panjang An Ra yang terurai.
“Tentu saja aku tidak mau kalah darimu! Otakmu hampir menyusul otakku, Gambaranmu juga. Dan yang paling membuatku sebal, tinggi badanmu sangat jauh melampaui tinggu badanku. Dan sekarang aku ingin menyaingi kemampuan musikmu!” An Ra menyenggol lengan Chanyeol.
“Hei, kalau membicarakan tinggi badan, badanku memang sudah tinggi. Kau saja yang tidak tumbuh tinggi. Dasar gadis pendek!” Ledek Chanyeol tanpa mempedulikan An Ra yang sudah menyiapkan kepalnya.
“Mwo?! Apa kau bilang aku gadis pendek? Lihat saja nanti saat aku sudah tumbuh tinggi, aku akan membuatmu tak percaya! Dasar kuping gajah!” Tawa An Ra yang sangat renyah membuat Chanyeol sebal. Kuping gajah katanya?Lihat saja, Aku akan membuat kupingmu membesar! Pikir Chanyeol. Seolah melaksanakan apa yang ada dalam pikirannya tadi Chanyeol memegang kuping An Ra dan mengangkatnya.
“Sebentar lagi kupingmu akan membesar, An Ra-ya!” Evil Smirk Chanyeol terdengar sangat menyeramkan.
“Yaaakkkk! Hentikan! Hentikan! Chanyeol-ya, aku tidak ingin menyaingi kuping gajahmu itu!”
“Apa? Apa yang barusan kau katakan? Kuping gajah? Hei, jika kau mengatakannya lagi, akan kupastikan kau memendek dan kupingmu akan membesar, lebih besar dari kupingku!”
“Silahkan saja! Kuping gajah, kuping gajah, kuping gajah, kuping gajah!” Teriak An Ra yang jelas-jelas kupingnya masih ditarik oleh Chanyeol.
“Baiklah, jika itu maumu,” Chanyeol segera menaiki punggung An Ra, sambil terus menjewer kuping An Ra.
“Aaaaaaaaaa!!!!!! Hentikan Chanyeol-ya! Kumohon! Maafkan aku telah mengejekmu kuping gajah.. Jebal, hentikan!” An Ra menjerit ketika tubuh
Chanyeol sedang menaiki tubuhnya. Hingga akhirnya Chanyeol turun dari punggungnya dan berhenti menjewernya.

An Ra berjalan menjauhi Chanyeol ke arah bangku yang berada dekat ring basket dang mendudukinya. Chanyeol hanya menoleh dan berjalan mendekatinya. An Ra menekuk bibirnya dan melipat kedua tangannya ke depan dada. Baiklah, ini pertanda An Ra marah padanya. Chanyeol duduk disebelah An Ra dan meniru gayanya dengan melipat kedua tangannya didepan dada.

“Hei Kim An Ra, berhentilah besikap seperti anak kecil! Kau sudah besar, bahakan umurmu sudah 14 tahun. Kau masih gampang marah seperti ini?” hanyeol mengomel tanpa melihat An Ra. Ia hanya menatap lurus lapangan basket. “Baiklah, baiklah. Aku akan mengajarimu alat musik apapun yang kubisa. Kau tidak usah marah seperti itu. Mukamu terlihat semakin jelek!” Sambung Chanyeol.

Beberapa lama kemudian An Ra tidak menunjukkan reaksinya dan membuat Chanyeol heran. Chanyeol menoleh ke arah An Ra dan mendapati An Ra sedang menutup mulut dengan kedua tangannya. Disertai dengan isakan kecil yang terdengar sangat pelang dari mulutnya. Hei, ada apa ini? Apa dia menangis? Apa ia marah pada Chanyeol karena perkataannya barusan?

“An Ra-ya? An Ra-ya? Kenapa kau menangis? Kau.. Kau marah karena ucapanku barusan? Ayolah.. Aku hanya bercanda, jangan menangis seperti ini..” Chanyeol menyentuh pundak An Ra yang sekarang sedang menangis tersedu. An Ra tidak meresponnya. Ia malah semakin terisak.

Chanyeol menyentuh kedua pundak An Ra dan segera memeluknya. Pelukan hangat yang sangat An Ra butuhkan sekarang. Demi apapun ia ingin menghentikan waktu sekarang juga dan berkata kepada dunia ia tidak ingin kehilangan namja ini. Namja yang selalu menjaganya dan menghiburnya saat ia sedang seperti ini.

Beberapa saat An Ra tidak bersuara, ia ingin terus seperti itu. Ingin selalu berada dipelukan Chanyeol. Hingga akhirnya An Ra membuka mulutnya sambil terus menangis tersedu.


“Chanyeol-ya.. Bagaimana jika aku kehilanganmu? Aku sangat tidak ingin kehilanganmu. Kau adalah satu-satunya namja yang mengerti diriku.” Kata-kata itu membuat Chanyeol melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?” Chanyeol menatap lekat mata indah An Ra. Mencoba mencari apa yang membuat yeoja itu berpikir ia akan berpisah dengan An Ra.
“Entahlah. Aku hanya takut kau meninggalkanku atau sebaliknya. Kau, namja yang selalu membuatku nyaman saat didekatmu. Bagaimana mungkin aku tidak takut kehilanganmu?” Isakannya semakin terdengar keras saat ia mengucapkan kembali alasannya bersedih. Dan membuat detak jantung Chanyeol terasa dibombardir begitu hebohnya.

“Hei, Kim An Ra. Selama Tuhan masih menakdirkan kita bersama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan jika hal buruk mungkin terjadi, kau tidak boleh lemah seperti itu.” Ucapan Chanyeol yang berusaha menenangkan An Ra rupanya malah membuat An Ra semakin tersedu.
“Chanyeol-ya! Jangan berkata seperti itu! Sampai kapanpun aku tidak akan siap kehilanganmu. Kau pikir siapa lagi yang akan membuatku tertawa?” Nada serius yang terdengar lucu itu kembali terdengar dari mulut An Ra yang sekarang ditekut kebawah. Sangat lucu jika ia sedang cemberut seperti ini.
“Bodoh. Dengarkan aku. Kau pikir jika kau kehilanganku tidak ada yang bisa membuatmu tersenyum lagi? Aku yakin, meskipun mungkin aku tidak ada disisimu, pasti ada orang yang bisa menggantikanku untuk terus membuatmu tersenyum. Dasar cengeng! Kau tidak boleh lemah seperti itu!” Chanyeol lagi-lagi mengacak-ngacak rambut An Ra. Kali ini An Ra sama sekali tidak bereaksi.
“Maukah kau berjanji, kuping gajah?” Kali ini Chanyeol tidak marah dipanggil ‘kuping gajah’. Hhhh, demi apapun jika yeoja ini tidak sedang bersedih, Chanyeol akan menjitak kepalanya sampai ia bersujud dihadapannya -____-
“Baiklah. Katakan, aku harus berjanji apa?”
“Kau harus berada disisiku selamanya. Mengajarkan alat musik sampai kemampuanku menyamaimu.” An Ra menatap lurus mata Chanyeol, berharap Chanyeol benar-benar berjanji padanya.
“Bagaimana jika aku tidak mau?” Tanya Chanyeol polos, sama sekali tidak berkesan serius.
“Dasar kau kuping gajah! Aku serius!” An Ra menjitak kepala Chanyeol dan Chanyeol pun meringis kesakitan.
“Arasseo. Hei gadis bodoh, aku berjanji padamu akan terus berada disisimu dan mengajarkan alat musik yang aku bisa padamu sampai kemampuanmu menyaingi kemampuanku.” Chanyeol berjanji sambil mengangkat kedua jarinya (peace) dan membusungkan dadanya, seolah-olah ia sedang berjanji kepada negara

Kim An Ra tertawa terbahak-bahak saat mendengar janji namja itu. Namja ini sama konyolnya dengan dirinya. Namja ini sangat ahli membuat moodnya
baik.


“Baiklah, kau sudah puas, nyonya An Ra?” Chanyeol mencibir.
“Yah, setidaknya telah membuatku melupakan semua rasa takutku, Tuan kuping gajah.”
“Yaakkkk! Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu? Kau sungguh sangat menyebalkan!”
“Berhentilah protes. Dasar kau kuping gajah yang sangat cerewet!” An Ra menarik hidung Chanyeol dan segera lari menjauh. Ia tahu Chanyeol paling benci ditarik hidungnya seperti itu.
“Kim An Ra!!!! Aku akan membuatmu menangis lagi! Lihat saja!” Chanyeol berlari mengejar An Ra yang sudah jauh di tengah lapangan.




>>>>>>>>>>>Flashback Off





“Geurae? Lalu apa.. Apa orang itu masih bersamamu?” Hanya pertanyaan itu yang bisa ia lontarkan. Ia hanya ingin tahu apa yang An Ra rasakan saat ia benar-benar kehilangannya.
“Ani. Dia.. Dia tidak bersamaku lagi.” Lirih An Ra.
“Wae?” Chanyeol semakin penasaran pada reaksi An Ra. Ia ingin melihat reaksi An Ra lainnya yang selama ini ingin sekali ia ketahui.

Setetes Air Mata

Oleh: Safira Salma Jihadia

Tetesan air turun
Menuruni lereng
Menjelajahi daratan
     Setetes demi setetes
     Air mata berkata
     Hatiku terluka
     pelupuk pun tak kuasa
     Membendung segenap rasa
Tumpahlah air mata
Seorang terluka
Dia wanita merana
     ada obat untuk raga yang terluka
     Namun tidak untuk goresan di hati
Semakin dalam tegores
Air mata menetes deras
Hati terluka sulit dilupa


Nah puisi yang barusan itu adalah salah satu puisi yang diikutkan di acara "Realistic"

Senin, 24 November 2014

Memories (chap.1

Oleh: Rifka Fadhilah
Tittle : Memories
Author : Kim Tae Rif
Genre : Romance, Comedy, Hurt, etc.
Main Cast : Park Chanyeol, Kim An Ra
Other Cast : Choi Seo Min, Oh Sehun, Byun Baekhyun

^-^ Happy Reading ^-^



07.00 PM
Seoul, Korea Selatan.

Kim An Ra membuka matanya perlahan, lalu mata indah itu terbuka sepenuhnya. An Ra meregangkan tubuhnya sambil menutup mulutnya yang kini sedang menguap. Matahari mengintip dari celah tirai apartemennya yang masih tertutup. An Ra bangkit dari kasurnya dan segera membuka tirai kemudian berjalan menuju dapur. Matanya menangkap sosok yang tidak asing lagi berada di apartemennya, Choi Seo Min.

“Rupanya kau sudah bangun, eoh? Aku membelikan sarapan untukmu. Aku juga membuatkanmu teh panas. Kajja, makan yang banyak!” Sapanya dengan senyuman hangat.
“Sepertinya aku punya firasat yang aneh.” Gumam An Ra, namun masih bisa didengar Seo Min. An Ra membuka bungkusan makanan yang dibelikan Seo Min dan perlahan memasukkan fish and chip itu ke dalam mulutnya. “Kau salah membelikanku makanan ini, ini lebih tepat untuk makan siang.” Sindir An Ra. Seo Min mencibir dan mendorong pundak An Ra pelan.
“Yak! Sudah untung kubelikan makanan. Dasar kau!”
“Oh ya, ada apa kau pagi-pagi kesini membelikan sarapan untukku dan membuatkan teh untukku?” Tanya An Ra.
“Aku ingin meminta bantuanmu.” Nada suaranya kini berubah menjadi super mengerikan, nada merengek seorang anak kecil. “Sudah kuduga.” Sela An Ra cepat. “Ayolah.. Kau ini sahabat baikku, kenapa aku meminta bantuanmu saja kau tidak mau?” Seo Min menarik-narik badan Nara yang masih lemas kedepan kebelakang.
“Mmm.” Sahut An Ra. “Memangnya kau mau minta bantuan apa, eoh?” Tanyanya.
“Ajari aku bermain biola.” Nada Seo Min yang semula memelas, kini berubah menjadi serius. Mendengar ucapan Seo Min, An Ra tersedak saat sedang menyesap tehnya.
“Uhukk.. Uhukk..” Kim An Ra tertawa begitu renyah sehingga membuat Seo Min dongkol. “Wae geurae?” Tanya Seo Min.

An Ra tertawa terbahak-bahak saat mendengar sahabatnya ini ingin bermain biola. Setahunya ia kurang suka alat musik dan ia juga tidak bisa bermain alat musik. Pernah saat Seo Min sedang memainkan gitar akustik, nada yang ia hasilkan sangat hancur dan terdengar menyedihkan. Sekarang, apa jadinya ia jika memainkan biola? Mungkin saja senarnya akan putus begitu Seo Min memainkannya. Atau mungkin nada yang ia hasilkan akan sangat menyeramkan seperti soundtrack film horor.

“Kim An Ra! Ayolah.. Kau kan pandai bermain alat musik, jadi tolong ajari aku.” Pintanya lagi. “Jebal..” Rengeknya lagi.
“Kau berani membayarku berapa Seo Min?”
“Yakk! Tak ku sangka ternyata anak konglomerat sepertimu masih membutuhkan uang.”
“Tentu saja! Hei, asal kau tahu, aku hanya di beri uang pas-pasan selama di Korea.”
Hening.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mengajarimu tanpa bayaran.” An Ra menyerah setelah melihat bibir Seo Min ditekuk kebawah. Jujur saja, ia sangat senang membuat Seo Min geram karena tingkah lakunya. An Ra memang sangat suka bercanda, dan ia tidak bisa marah.
“Nah, itu baru sahabatku.” Seo Min mendorong pundak An Ra lagi sambil tersenyum lebar.
“Mmm, aku memang sahabat yang baik.” An Ra membalas senyuman Seo Min sambil menunjukkan aegyonya. “Oh ya, terimakasih sarapannya.”



***



Pagi ini terlihat sangat cerah, bertolak belakang dengan suasana hatinya. Chanyeol lagi-lagi pindah dari sekolah lamanya di Gyeonggi, dan harus meneruskannya di Seoul, kota asalnya. Ini karena Appa-nya ditugaskan di luar negeri dan Chanyeol harus tinggal di Seoul, bersama Ahjussi-nya. Tetapi walaupun ia dititipkan pada Ahjussi-nya, ia tetap tidak serumah dengan Ahjussi-nya karena Ahjussi-nya sudah berkeluarga. Chanyeol tinggal di apartemen yang terletak tidak terlalu jauh dari sekolah barunya.


*At School*


“Pagi ini teman kalian bertambah satu, anak-anak. Kita  kedatangan murid baru. Kajja, perkenalkan dirimu pada teman-temanmu.” Guru wali kelas itu menyuruh Chanyeol memperkenalkan dirinya dihadapan murid-murid sekelasnya.
“Annyeonghaseyo, ne ireumeun Park Chanyeol imnida.” Sapanya sambil menyunggingkan senyuman yang membuat yeoja manapun mengaguminya.
“Baiklah, kau duduk bersama Sehun disana.” Suruh guru itu. Ia berjalan menuju bangku ketiga di barisan tengah, bersama namja yang bernama Sehun. Dan tiba-tiba..


DEG!


Jantungnya berdetak begitu cepat dan matanya membulat seketika saat melihat yeoja yang duduk dibelakang bangkunya. Yeoja selama 3 tahun ini sama sekali tidak menampakkan senyum manisnya, yeoja yang selama ini ia rindukan, yeoja yang selalu membuatnya bahagia. Yeoja itu kini tersenyum manis padanya, senyum yang selalu membuat hati Chanyeol merasa tenang. Dan saat itulah ia merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya. Jantungnya kini berdebar 2 kali lebih cepat dari biasanya. Tapi ia sama sekali tidak membalas senyuman yeoja itu,malah  ia mengabaikan yeoja yang tersenyum padanya. Kim An Ra..




***





Krriiiiinnnngggg.. Kriiiinnnnggggg..

Suara bel tanda masuk kelas berbunyi. Murid-murid yang berada di luar kelas segera masuk ke kelas karena tidak mau terkena masalah dengan gurunya. Kim An Ra dan Seo Min pun duduk dibangkunya. Tak lama kemudian gurunya datang bersama seorang namja. Mungkin namja itu adalah murid baru, entahlah, An Ra tidak terlalu menghiraukannya.

“Pagi ini teman kalian bertambah satu, anak-anak. Kita  kedatangan murid baru. Kajja, perkenalkan dirimu pada teman-temanmu.”  Guru matematika yang menyuruh namja itu memperkenalkan dirinya.
“Annyeonghaseyo, ne ireumeun Park Chanyeol imnida.”

Apa? Tunggu sebentar, siapa tadi namanya? Park Chanyeol? Kenapa namanya persis sekali seperti nama sahabatnya dulu? Sahabatnya 3 tahun yang lalu.. Tepatnya cinta pertamanya, yang sampai sekarang ia tidak tahu keberadaannya. Kalaupun memang benar namja itu.. Ah tidak mungkin! Wajahnya jauh berbeda dengan Park Chanyeol masa lalunya. Sudahlah, mungkin hanya dugaannya yang sama sekali tidak benar.

Setelah memperkenalkan dirinya, namja yang bernama Park Chanyeol melangkah menuju bangkunya yang berada tepat di depan bangku Nara. Nara tersenyum ramah pada Chanyeol. Tapi, namja itu sama sekali tidak tersenyum balik padanya. Ia malah mengabaikannya. Dan itu sempat membuat An Ra jengkel. Wae geurae? Kenapa namja itu terlihat tidak menyukainya? Padahal menurutnya ia tidak pernah berbuat apapun sampai bisa membuat namja itu tidak menyukainya. Ia selalu tersenyum kepada siapapun. Aah, ia mengabaikan kejadian menjengkelkan itu dan fokus ke dalam pelajaran.

SKIP

Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid pun berhamburan keluar dari sekolah. Kecuali beberapa murid termasuk An Ra dan Seo Min. “An Ra! Lihat murid baru itu! Bukankah ia sangat tampan? Kau tahu.. Saat ia tersenyum, ia terlihat begitu manis, ne?” Celoteh Seo Min. An Ra memandangi Chanyeol yang sedang tertawa bersama Sehun dan teman-temannya. Tampaknya ia mudah bergaul. Buktinya, baru satu hari ia bersekolah disini, ia sudah terlihat sangat akrab dengan namja-namja lainnya.
“Ya, bisa jadi.” Balas An Ra sambil mengangguk-nganggukkan sedikit kepalanya. “Tapi sepertinya ia tidak menyukaiku.” Sambungnya. Ucapan An Ra membuat Seo Min heran.
“Chanyeol tidak menyukaimu? Wae? Kau yakin?” Tanya Seo Min. “Sepertinya benar. Saat ia berjalan menuju bangkunya, aku tersenyum padanya. Tapi ia tidak menggubris senyumanku. Padahal pada orang lain ia tersenyum.”An Ra menarik nafas panjang dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. “Jinjja?” Seo Min menatap An Ra iba.
“Hei, tidak usah melihatku dengan tatapan iba seperti itu!” Ucap An Ra sambil mencibir.
“Kajja!” Nara dan Seo Min pergi meninggalkan kelas. Saat menuruni tangga lantai 2, mereka berpapasan dengan Chanyeol. Nara menunjukkan senyuman termanisnya lagi pada Chanyeol, tapi apa? Untuk kedua kalinya, senyumannya sama sekali tidak dibalas Chanyeol. Namja itu mengabaikannya seolah-olah ia hanya debu yang terbang dihadapannya. Ada apa dengan namja itu? An Ra tidak marah, ia sama sekali tidak marah, ia malah heran. Kenapa namja itu membencinya.
“Kim An Ra! Kajja!” Seruan Seo Min membuyarkan lamunan Nara yang tanpa sadar menghentikan langkahnya.
“Ne..” Jawabnya pelan.

***

“Hei, kau mau ikut ke kantin tidak?” Tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk dan mengikuti Baekhyun dan Sehun ke kantin. Ia hanya membeli air mineral dan segera membayarnya ke kasir. Ah.. Ia baru ingat, ponselnya tertinggal di kelas. Ia pun segera kembali ke kelas. Dan sialnya ia bertemu dengan yeoja itu lagi. Yeoja itu tersenyum lagi padanya, dan jantungnya lagi-lagi berdebar begitu cepat. Apa yeoja itu masih menyukainya setelah apa yang terjadi tadi? Kenapa yeoja ini malah tersenyum lagi padanya? Ah, ia mengerti. Ia tahu Kim An Ra tidak mudah menyerah. Ia akan mencoba mendekatinya lagi, sampai rasa penasarannya hilang. Dan ia juga tahu, yeoja itu tidak bisa marah. Bagaimana pun cara ia menghindari An Ra, An Ra tidak akan membencinya dan malah semakin penasaran ingin mendekatinya. Tapi untuk sekarang.. Tidak! Ia tidak ingin membuat masa lalunya diungkit-ungkit lagi. Chanyeol harus menghindarinya. Chanyeol mengabaikan senyuman Nara untuk kedua kalinya.
“Hei Chanyeol! Kukira kau pulang duluan. Ternyata di sini.” Seruan Baekhyun membuyarkan lamunannya. “Ah, iya. Tadi aku ingin mengambil ponsel.”
“Kalau begitu, susul kami ke aula.” Ucap Sehun. Mereka akan bermain basket sore ini.



*At Chanyeol’s apartmen*



Chanyeol masih menatap lekat secarik fotonya bersama An Ra. Yeoja yang membuatnya merasakan kebahagiaan sekaligus kekecewaan. Kenapa ia seperti ini? Bukankah ia sudah membenci An Ra? Lalu kenapa jantungnya berdebar lagi saat An Ra tersenyum padanya? Pertanyaan itu simpang siur berada di dalam otaknya. Tetapi tidak ada satupun yang berhasil ia jawab. Lalu kenapa dunia ini sangat sempit? Kenapa ia harus satu sekolah bahkan satu kelas dengan An Ra? Pertanyaan itu kembali muncul dan tak hentinya membanjiri pikiran Chanyeol. Kalau sudah begini, apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba ia teringat rencananya untuk menata letak barang-barang di apartemennya.  “Aiissshh.. Kenapa kau harus muncul di hidupku lagi, eoh?” Gumam Chanyeol. Ia lalu melangkahkan kakinya ke kamar, tempat ia menyimpan barang-barangnya yang sama sekali belum tertata dengan baik. 2 hari yang lalu sejak ia menginjakkan kaki di Seoul, ia belum sempat menata barang-barangnya. Mungkin ia terlalu lelah untuk menatanya sendirian.

Chanyeol menyalakan musik pop untuk menghibur dirinya, sekaligus menjadi penyemangat untuk kerjaannya kali ini. Ia berjalan kesana kemari sambil sesekali pura-pura bernyanyi dengan sapu sebagai mik dan gitarnya. Itulah  Chanyeol, namja yang sangat mudah senang dan sedih. Namja yang bisa dikatakan sangat labil. Entahlah, mungkin itu yang membuatnya dijuluki ‘Happy Virus’ oleh teman-temannya. Termasuk.. yah, Kim Na Ra juga sering menjulukinya seperti itu. Sekarang Chanyeol sedang bernyanyi menggunakan sapunya dan berlagak layaknya seorang rapper.

Waktu menunjukkan pukul 8:00 AM. Kurang lebih 2 jam ia membereskan apartemennya yang kini tertata rapi dan sangat kinclong. “Hufffttt..” Ia merebahkan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tengah. Dan ia merasa sangat haus sekarang. Chanyeol membuka kulkas dan mendapati isi kulkas yang masih polos, tidak ada makanan ataupun minuman di dalamnya. “Aigoo.. Aku lupa, kenapa tadi aku tidak membeli makanan?” Chanyeol berdecak pinggang sambil mendesah berat. Terpaksa, ia harus membelinya sendiri ke luar apartemen.

Jalanan yang ramai dan udara yang dingin membuatnya semakin malas untuk menggerakkan kakinya untuk hanya sekedar membeli kebutuhan. Tidak bisakah mereka diam dia rumah mereka masing-masing? Cuaca dingin begini, mereka masih bisa keluyuran? Pikir Chanyeol. Ia sampai pada sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari apartemennya dan memasukinya. Chanyeol membeli makanan yang minuman banyak sekali, karena ia adalah namja yang jarang dan tidak bisa memasak. Bahkan memasak omelette saja ia sering gagal, dan hasilnya tidak usah ditanyakan lagi. Hasilnya omelette itu gosong dang pahit. Setelah selesai berbelanja makanan, ia segera menaiki gedung apartemennya dan menaiki lift untuk menuju  lantai 12. Ia berjalan menyusuri kamar-kamar apartemen lainnya dan hampir sampai di depan pintu apertemennya. Tapi sialnya lagi.. Ia bertemu yeoja itu lagi! Apa lagi ini? Apakah Seoul sesempit ini sampai ia selalu dipertemukan dengan Kim An Ra? Tampaknya ia menyadari keberadaan Chanyeol dan segera menyapa Chanyeol dengan senyum manis yang sebentar lagi bisa membuat jantung Chanyeol berhenti berfungsi.

“Annyeong, Chanyeol-ya!” Sapanya masih dengan senyuman yang terlihat sangat tulus serta mata yang melengkung menunjukkan ‘Eye Smile’-nya. Aah.. Itulah senyuman yang selalu ada di pikiran Chanyeol. Ia sangat merindukan senyuman itu.. Sangat..

Seketika Chanyeol membeku. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia lari begitu saja dari yeoja yang dari tadi pagi terus saja menyapanya dengan senyuman hangat? Atau ia harus terjun dari apartemen lantai 12 ini? Tidak, ia tidak mungkin melakukannya. Sadar terlalu lama terdiam, Chanyeol segera mengambil kunci apartemennya tanpa mengiraukan An Ra yang berada di depannya, dan baru saja ia hendak membukanya, An Ra menyentuh pergelangan tangan Chanyeol. Dan ia yakin saat ini juga jantungnya akan menciut dan berubah seperti daun yang beterbangan.

“Wae geurae?” Tanya An Ra polos. Ada apa? Ada apa dengan dirinya? Apa ia harus menceritakan masa lalunya yang sama sekali tidak berarti untuk yeoja itu? Tidak! An Ra tidak perlu mengetahuinya.
“Gwenchana.” Jawab Chanyeol dingin, itu adalah kata yang pertama kali ia ucapkan pada An Ra. Ia baru ingin melangkahkan kakinya satu langkah saja, tapi An Ra menahannya lagi.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak menyukaiku?” Tanya An Ra lagi. Nadanya terdengar sangat menyesal. Nara tidak marah sama sekali atas sikap Chanyeol, dan ia tahu An Ra tidak akan marah padanya. Karena ia mengetahui jelas sifat An Ra. Ia terlalu mengenal An Ra.
“Katakan padaku.. Apa aku pernah berbuat salah padamu? Kenapa kau seperti ini Chanyeol-ya?” Tangan An Ra sedikit meregang, dan perlahan melepasnya. “Baiklah.. Mianhae jika aku berbuat salah padamu. Dan mianhae karena telah mengganggu waktumu.” Sambungnya. Yeoja itu kemudia pergi, dan tidak lama kemudian Chanyeol memanggilnya.
“An Ra-ya!” Panggil Chanyeol. Nara menoleh dan membalikkan badannya, menunggu apa yang ingi diucapkan Chanyeol. “Kau.. Kau tidak pernah berbuat salah padaku. Aku hanya.. hanya gugup jika seseorang bersikap ramah padaku.” Alasan ini jelas-jelas salah. Ia sangat bodoh, bagaimana ia bisa berbicara seperti itu sementara tadi yeoja itu melihatnya sangat akrab dengan Sehun, Baekhyun dan yang lainnya. Apa itu yang disebutnya gugup?
Chanyeol menatap wajah An Ra yang sekarang sedang melemparkan senyum ‘lagi’ padanya. Dan kali ini, untuk pertama kalinya Chanyeol menjawab senyuman itu dengan kikuk. “Tidak usah gugup padaku, anggap saja aku ini teman baikmu. Oke?” Rupanya An Ra tidak menyadari alasan bodoh yang baru saja Chanyeol katakan.
“Ne.” Jawab Chanyeol, jelas-jelas sangat kikuk.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat malam!” An Ra membungkukkan badannya sedikit dan segera pergi.

Sedangkan Chanyeol? Bagaimana dengan kegugupannya? Ia hampir jatuh ke lantai kalau saja ia tidak menahan tubuhnya pada tembok. Entah kenapa, hanya berbicara pada An Ra saja ia harus mengumpulkan tenaganya dulu. Bahkan hanya menatapnya saja darahnya serasa tidak mengalir. Kenapa ia begitu gugup pada yeoja itu?




***





Pukul 08:00 tepat An Ra sudah sampai di depan sekolahnya, lengkap dengan seragam dan peralatan sekolahnya. Padahal sekolah dimulai jam 09:00. Hari ini ia memutuskan datang ke sekolah lebih awal, ia ingin sedikit menemukan ketenangan di atap sekolahnya. Beberapa menit kemudian langkahnya berhenti di sebuah tempat yang sering ia kunjungi, tempat favorit yang mungkin hanya ia yang menyukainya. Hembusan angin musim Semi membuatnya hanyut dalam ketenangan suasana tempat ini. Nara membawa biola kesayangannya dan duduk di kursi tua yang sudah berkarat. Ia membuka wadah biola itu dan mulai memainkannya. Ya, Kim An Ra, selain pintar dalam pelajaran sekolah, ia juga menguasai dunia seni, dan juga bisa memainkan berbagai alat musik. Ditambah wajah berparas cantik, lagi sikap ramah dan hangat yang selalu ia tunjukkan kepada semua orang. Sangat sempurna, eoh? Kim An Ra adalah anak konglomerat yang orang tuanya sering berpindah tugas, sekarang ia harus tinggal sendiri di Seoul karena orangtuanya harus pergi ke Kanada. An Ra adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kakaknya yang sekarang sudah bekerja dan sudah menikah, memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Perancis. Dan di Seoul, ia benar-benar sendiri, tidak ada satupun saudara yang ia punya di Seoul. 3 tahun yang lalu, ia terpaksa pindah ke China karena orangtuanya harus bekerja disana. 1 tahun kemudiannya ia harus pindah lagi ke Seoul, kota kelahirannya karena ia memutuskan untuk tinggal di Seoul. Dan ia ingin hidup mandiri. Ayah dan Ibunya tidak mengajarkannya untuk hidup manja meskipun An Ra adalah anak konglomerat. An Ra sangat sederhana, seperti orang biasa.

Gesekan demi gesekan biola itu secara tidak langsung mewakili perasaannya. Entah itu senang, sedih, ia selalu menumpahkannya pada biola. Seperti saat ini, saat ini ia sedang menggesekkan biola dengan sebuah perasaan yang.. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan.

Tiba-tiba permainan biolanya berhenti begitu ia mendengar suara pintu terbuka, yang tak lain adalah pintu yang membawanya ke atap sekolah. Siapa yang datang? Setahuku tidak pernah ada yang datang ke tempat ini terutama pagi-pagi begini selain aku. Pikirnya. Matanya tetap mengarah pada pintu itu, melihat siapa yang akan datang. Dan tak lama kemuadian, aah.. Chanyeol. Kenapa ia bisa tahu tempat ini?
“An Ra-ya?” Panggil Chanyeol.
“Ne?” Sahutnya. Tampaknya sekarang Chanyeol tidak terlalu gugup lagi padanya. Chanyeol berjalan ke tempat An Ra duduk.
“Sedang apa kau disini?”




***




Chanyeol menjelajahi gedung sekolah yang tampak sepi itu. Ia bosan setengah mati karena tidak ada satupun orang yang datang. Akhirnya ia menjelajahi sekolah ini dan menemukan pintu di lantai 3. Seperti biasa, Chanyeol mudah penasaran dan akhirnya ia membuka pintu tersebut. Sedikit kotor dan berdebu. Mungkin wajar saja, karena sepertinya tidak ada orang yang mau datang ke tempat ini. Chanyeol membuka pintunya perlahan, dan pandangannya tertuju pada seorang yeoja yang sedang melihat ke arahnya. Kim An Ra. Kenapa belakangan ini ia selalu bertemu dengan yeoja itu?
“An Ra-ya?” Panggilnya. Memastikan memang benar itu Nara.
“Ne?” Aah, rupanya benar. Entah darimana keberanian Chanyeol untuk melangkahkan kakinya mendekati yeoja itu.
“Sedang apa kau disini?” Tanyanya.
“Aku bosan, dan aku menjelajahi sekolah ini.” Chanyeol tersenyum dan menampakkan gigi putihnya. Chanyeol terlihat sangat lucu saat tersenyum, selain karena lesung pipinya, ia juga terlihat seperti anak kecil. Lain lagi saat ia begitu dingin, ia terlihat sangat cool dan manly.
“Duduklah,” An Ra menyuruh Chanyeol duduk di sebelahnya, dan Chanyeol pun duduk di sebelah yeoja itu.
“Kau sedang apa disini?” Tanya Chanyeol balik.
“Aku selalu datang ke tempat ini jika aku sedang bosan atau sedang merasakan apapun. Kau tahu, tempat ini adalah tempat favoritku.” An Ra menyunggingkan senyumnya. Tanpa sadar Chanyeol terus memandanginya. Dan ia baru sadar, ia tidak pernah bosan memandangi wajah Kim An Ra.

An Ra mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone. “Mau mendengarkan musik? Kau harus mendengarkan lagu ini. Lagu ini adalah lagu favoritku dulu.. Entah kenapa aku tidak pernah bosan mendengarkan lagu ini.” An Ra menyodorkan sebelah earphonenya. Dan sebelahnya lagi dipasang ditelinga An Ra. Chanyeol pun memasangnya.

Lagu ini.. Tunggu, lagu ini adalah lagu favoritku dengannya dulu. Benar! Lagu ini. Lalu kenapa dia masih menyukai lagu ini? Bukankah dia sudah.. Ah, astaga. Pikiranku mulai bercabang lagi sekarang. Sesaat, suasana menjadi sangat tentram. Chanyeol merasa nyaman, ia ingin terus seperti ini. Ia ingin terus berada di sisi Kim An Ra.

Suara bel tanda masuk kelas terdengar samar dari lantai 2. “Hei, sepertinya sudah bel, eoh?” An Ra melepas earphonenya dan menghentikan musiknya. Chanyeol hanya mengangguk.

SKIP

Chanyeol menyetir mobilnya menuju apartemennya. Perasaannya campur aduk sekarang. Rasanya seperti nano-nano (?). Apakah ia harus terus menghindar dari Kim An Ra? Atau ia harus mulai melupakan masa lalunya dan berteman dengan An Ra? Satu yang ia khawatirkan. Ia takut jatuh cinta untuk kedua kalinya pada yeoja itu. Meskipun memang kenyataannya ia jatuh cinta lagi pada yeoja itu.

Sesampainya di apartemen, ia menemuka An Ra sedang bersandar di pintu apartemennya dengan mulut ditekuk. “Kenapa kau tidak masuk ke apartemenmu?” Tanya Chanyeol. Ia lihat, An Ra sangat terlihat dongkol. “Kunci Apartemenku.. Aku lupa menaruhnya..” Lirihnya. Lalu bagaimana ini? Apa yang harus Chanyeol lakukan? Meninggalkannya begitu saja? Tidak mungkin. Bagaimana pun ia masih manusia, ia tidak akan bisa bertindak seperti itu.
“Kalau begitu.. Masuklah ke apartemenku.” Entah keluar dari mana kata-kata itu, Chanyeol mengatakannya begitu saja. Sial, bagaimana kalau An Ra menganggapnya sebagai namja genit yang baru satu hari mengenal An Ra sudah menyuruhnya masuk ke apartemen? Bodoh.
An Ra menatap Chanyeol dengan sedikit memiringkan kepalanya. Ia sangat lucu, seperti boneka walaupun matanya agak sipit. “Hmm, memangnya kau tidak keberatan kalau aku masuk?” Tanya An Ra. Sepertinya An Ra tidak menolak ajakan Chanyeol, ia hanya ragu jika namja itu keberatan.
“Aah, tidak. Silahkan saja.” Chanyeol menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal sambil tersenyum kikuk. Ia sangat kikuk, sangat kikuk.

***

An Ra menyandarkan tubuhnya pada pintu apartemennya. Kunci apartemennya entah berada dimana sekarang, ia lupa menaruhnya. Dan sekarang ia harus apa? Tidak lama kemudian seorang namja yang sudah ia kenal berjalan ke arahnya. Aah, sekarang ia merasa agak tenang. Eh? Kenapa ia merasa tenang? Aigoo.. Kenapa selalu seperti ini jika melihatnya?
“Kenapa kau tidak masuk ke apartenmu?” Tanya Chanyeol.
“Kunci apartemenku.. Aku lupa menaruhnya..” Apa? Sekarang kenapa nada suaranya sangat lirih? Sial.
“Kalau begitu.. Masuklah ke apartemenku,” Apa ia tidak salah dengar? Chanyeol mengajaknya masuk? Padahal baru kemarin Chanyeol bersikap dingin padanya. Tidak ada sedikit pun pikiran buruk yang terbesit saat Chanyeol mengajaknya masuk. Ia hanya ragu, jika saja ia merepotkan namja itu.
“Memangnya kau tidak keberatan kalau aku masuk?” Tanyanya.
“Aah, tidak. Silahkan saja.” Chanyeol sangat lucu saat ia menyunggingkan senyuman kikuknya. Bahkan saat pertama kali melihatnya, ia merasa namja itu sangat lucu dan sangat.. Sangat familier. Kenapa bisa begini, padahal ia baru mengenal namja ini satu hari yang lalu. An Ra mendongak untuk bisa menatap Chanyeol, karena Chanyeol sangat tinggi. Sedangkan tinggi An Ra hanya semulut Chanyeol.
“Baiklah.”

Realistic! Obat galau



Apakah kalian sadar? Begitu monotonnya dunia ini sehingga setiap harinya terlihat sama. Tanpa ada sesuatu spesial di dalamnya? Ya! Itulah yang aku rasakan. Bosan. setiap hari begitu-begitu saja. Ya, paling-paling hanya ada beberapa kejadian yang membuat hari-hariku berwarna. Tapi entahlah, hati ini terus saja meronta. Ingin rasanya ku rombak dunia ini dengan segala pikiranku. Tapi, kurasa dunia ini memang terlalu monoton untuk dapat mewujudkan keinginan hati yang begitu lama terpendam begitu lama selama aku berada di sini. Benda. Ya, percaya atau tidak disanalah aku bersekolah sekarang. Jujur saja aku ingin mengubah beberapa hal di dalamnya. Tetapi tak ada penggerak yang dapat menggerakkan aku dan teman temanku untuk melakukannya. Kan tidak mungkin jika aku melakukannya sendiri. Karena itulah sekarang aku sangat bersyukur.

Beginilah ceritanya..


Hari sudah gelap setelah beberapa kali speaker itu berbunyi. Tanda waktu belajar malam tiba. Yah, seperti biasa aku pergi dengan jaket biru dan tas gendong hitam-pink yang ku panggil tas biru itu. Berjalan dari asrama putri ke gedung sekolah yang bernama Shidiq Amien. Melalui mading bahasa dan menapaki beberapa anak tangga menuju kelasku. Beberapa orang berlalu-lalang dengan makanan ringan di tangan mereka. Beberapa lagi mengerjakan tugas atau hanya sekedar menikmati angin malam di pinggir balkon. Aku pun memasuki kelas dan menyimpan tas di atas meja. Lelah merasukiku begitu saja. Tanpa rasa sopan pada dirinya. Hahaha dia memang selalu begitu di tiap hariku. Jadi aku selalu memakluminya jika lelah itu mampir dalam hidupku.

Kemudian, aku pergi keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tapi tak lama, seseorang berseru agar segera masuk ke dalam kelas karena ada sesuatu yang akan di sampaikan. Ketika aku masuk, terlihat tiga sosok asing yang tidak biasa ada di dalam kelasku. Tapi, aku mengenal mereka ternyata. Aku pun duduk di bangkuku yang berada paling depan dan menyimaknya baik-baik.

Ya Allah aku bergitu terhenyak saat itu. Bukan apa-apa…. Aku bahagia sekali. Sangat bahagia bahkan tak dapat tergambarkan. Obat kegalauanku selama ini yang sebenarnya hadir begitu saja di hadapanku. Saat seseorang menuliskan sesuatu di papan tulis kelas. Tepat di hadapanku. Entahlah, intinya aku sangat bahagia.

Minggu depan akan di adakan acara bernama “Realistic”. Acara yang pertama kali di selenggarakan oleh Ummahatul Ghad Tsanawiyah (organisasi sekolah semacam OSIS). Acara yang mengadakan lomba jurnalis. Diantaranya adalah, Blog, Pembawa acara, Wartawan, Fotografer, Cerpen, Cergam, Puisi, dan kelas terkreatif. Ah! Bagaimana mungkin aku tidak bahagia! Sangat bahagia sekali. Meskipun satu hal yang membuatku bertambah bimbang adalah memutuskan lomba apa yang akan ku ikuti. Aku ingin mengikuti semuanya sebenarnya. Atuhlah…. Yah, tapi bagaimana lagi, aku tetap harus memilihkan? Dan akhirnya aku memilih untuk mengikuti lomba blog. 

okey. dan satuhal lagi yang mengatasi kemonotonan ini. aku senang dapat menghias kelasku. Ah, akhirnya keinginnanku yang satu ini dapat tercapai. kemonotonan kelasku yang begitu-begitu saja dapat teratasi dengan kelas bertema antariksa. mungkin hanya ini yang bisa aku ceritakan.