- Tittle : Gone
- Oleh: Rifka Fadhilah
- Cast : Xiumin, Kim You Jung
- Genre : Romance, Sad.
- Author : Ini saya author ter absurd sepanjang jalur pantura-_- Park Ah Rin
- Lenght : OneShoot
Annyeong, piye kabare, kumaha damang? (?) :v heheh. Maaaaappp yang sebesar rumah suho/? Author baru bisa ngepost ff ini L Soalnya author lagi disibukkin sama buku Ramadhan -_- maap buat yang nungguin ff abstrak bin gajah mada korishiwa/? ini, baru bisa dipost sekarang L
Oke.. Langsung baca aja yeth ^^
*YANG NGGA KENA TAG, BERARTI BELUM BERTEMAN CHINGU ^^*
Warning! Siapkan sabuk pengaman, rem dan lampu sen anda karena virus typo berada dimana-mana :v Dilarang keras mengcopy+paste hasil karya author :3 Dan jangan lupa kasih kritik sarannya :D
.
.
.
.
Summary : Jika aku boleh berharap, harapanku hanya satu. Aku ingin melihatmu sekali saja dalam hidupku.. Bisakah?
*Kim You Jung POV*
Aku terduduk di depan rumahku, menatap langit yang sama sekali tidak bisa kulihat. Semuanya gelap, hanya kegelapan yang selama ini bisa kulihat. Yah, benar. Aku adalah yeoja yang buta. Bahkan aku tidak pernah melihat wajah orangtuaku dan wajahku sendiri. Terakhir kali aku bisa merasakan keberadaan orangtuaku saat 4 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya mereka meninggalkanku sendirian untuk selamanya. Meninggalkan aku yang selalu kesepian, tidak bisa hidup seperti yeoja normal lainnya.
Demi tuhan, aku ingin seperti yeoja lainnya yang bisa melihat kehidupan dengan sangat nyata. Tanpa ada batasan fisik apapun sepertiku. Aku ingin seperti yeoja lain, merasakan jatuh cinta dan hidup bahagia. Apa yang salah denganku? Kenapa tuhan menakdirkanku tidak bisa melihat kehidupan yang orang bilang sangat indah ini?
“Nona Young Jung. Mobilnya sudah siap, anda harus segera berangkat.” Ucap salah satu bodyguardku. Ini sudah waktunya aku pergi dari rumah ini dan tinggal di rumah Ahjussi-ku, karena beberapa hari yang lalu nenekku dilarikan ke rumah sakit. Nenekku terserang penyakit jantung, dan ia takut tidak ada yang menjagaku di rumah. Itulah sebabnya nenek menitipkanku pada Ahjussi-ku.
“Ne.” Jawabku pelan.
Perlahan aku duduk di kursi belakang, tentu saja mengandalkan rabaan tanganku meskipun bodyguardku sudah membukakan pintu. Semua yang ku sentuh terasa semu. Rasa takut sesekali menghinggapiku saat aku menyentuh sesuatu yang baru ku sentuh dan merasa sendirian. Aku benci sendirian, tapi kenyataannya berbanding terbalik, aku selalu sendirian.
Angin hangat menerpa wajahku. Nyaman. Itulah yang kurasakan saat merasakan hembusan angin. Mungkinkah ini yang orang sebut musim semi? Dimana tanaman akan tumbuh dengan indahnya dan angin berhembus hangat. Jika benar, aku sangat menyukainya. Musim semi selalu membuat hatiku nyaman. Seperti benar-benar melihatnya. Aku bisa membayangkannya..
“Nona Young Jung, anda sudah sampai.” Ucap bodyguardku lagi. Aku hanya mengangguk kecil dan menunggu bodyguardku membukakan pintu untukku.
Aku melangkahkan kakiku, lurus seperti biasanya. Aku sudah hapal jalan ini, karena aku sering menginjakkan kakiku disini.
“Selamat siang Nona Young Jung,” Sapa seorang namja berusia paruh baya. Entah ia menundukkan kepalanya yang orang sebut sebagai tanda hormat atau tidak, aku tidak pernah menghiraukannya. Aku selalu bersikap dingin.
***
*Kim Min Seok POV*
Dentingan piano yang terasa indah di dengar itu dihasilkan gerakan tanganku yang sedang menari-nari diatas tuts-tuts piano. Ya, aku namja yang termasuk beruntung mempunyai keluarga yang lebih dari kata ‘mampu’, yang setiap hari disibukkan dengan jadwal kursus dan kursus. Tanpa bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayaku. Aku selalu mendapat larangan dari kedua orangtuaku untuk bermain bebas dengan teman-temanku. Entahlah, aku tidak yakin aku punya seorang teman.
Pandanganku tiba-tiba berpindah pada seorang yeoja yang sedang berjalan tanpa menengok sedikit pun kearahku. Yeoja itu hanya menatap lurus jalan yang akan ia injak. Entah kenapa aku tertarik untuk terus melihatnya. Sebenarnya dia bukan yeoja pertama yang pernah kulihat, aku sering melihat yeoja lain yang lebih cantik dan menarik daripada yeoja tadi. Tapi entah mengapa semua yeoja yang lebih cantik dan menarik dari yeoja tadi tidak membuatku tertarik sedikitpun. Dan malah yeoja ini yang membuatku tertarik. Ada apa denganku?
“Kim Min Seok! Perhatikan notnya!” Suara bentakan dan juga suara piano dipukul keras berhasil membuyarkan lamunanku tentang yeoja tadi.
Aku juga berhasil membuat Jun Hyun Sik-ssi naik darah seperti biasanya. Guru tua itu selalu berlaku kasar, dan aku sedikit tidak menyukainya. Terkadang guru menyebalkan itu memarahiku tanpa alasan. Entahlah, aku tidak mengerti dengan isi kepalanya. Mungkin karena ia sudah tua, jadi mungkin ia sering terbawa emosi.
“Ah, ne. Mianhae.” Aku kembali memfokuskan pandanganku pada not-not piano yang berada tepat di depan mataku. Walaupun sejujurnya ia masih ingin melihat yeoja tadi.
Aaah, bagus. Jun Hyun Sik-ssi sedang tidak memperhatikanku. Jadi aku bisa melihat yeoja itu lagi. Aku menelusuri taman yang terhampar luas dan mencoba mencari yeoja tadi dari jendela. Kemana yeoja itu?
Oh, itu dia. Ia sedang terduduk sambil melihat kebawah. Seperti tadi, ia melihat rumput-rumput yang sedang ia injak. Mataku semakin tertarik untuk melihatnya, sehingga membuatku melupakan Hyun Sik-ssi yang akan segera mengamuk seperti beruang kelaparan jika melihatku tidak memperhatikan not yang ia berikan untuk kedua kalinya.
Aissshh, aku tidak mau Hyun Sik-ssi mengamuk lebih parah lagi. Jadi aku memutuskan untuk memperhatikan not piano saja.
“Baiklah. Kursus kali ini sampai disini saja.” Ucap Hyun Sik-ssi tiba-tiba. Seperti biasa juga, ia menentukan berakhirnya waktu kursusku sesukanya.
Aku membereskan isi tasku yang penuh dengan not piano dan memasukkan not piano baru yang Hyun Sik-ssi berikan padaku tadi. Aku pun segera pergi dari ruangannya.
Aku berjalan dengan bodyguardku yang sudah 2 tahun ini selalu mengikutiku kemana pun aku pergi. Inilah yang selalu membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak bebas melakukan apapun sesukaku. Hidupku penuh dengan aturan.
Pil yang sudah tidak asing lagi kugunakan baru saja hendak ku telan saat mataku menangkap sosok yeoja tadi. Aah benar, ini yeoja yang sedari tadi kuperhatikan dari jendela ruangan kursus. Aku berpapasan dengannya. Tapi yeoja itu terlihat sangat dingin, tidak menunjukkan senyumannya sedikitpun. Seperti yang tadi ia lakukan, ia hanya menatap lurus jalan dan tidak memandang sekelilingnya.
Yeoja ini terasa asing bagiku karena memang aku baru pertama kali melihatnya. Mungkin dia baru saja kursus disini, jadi aku baru melihatnya.
“Hei, kau tahu siapa namanya? Apa dia baru kursus disini?” Tanyaku pada bodyguardku.
“Sudah jalan! Jangan tanya macam-macam!” Bentak bodyguardku. Menyebalkan! Aku lebih suka bodyguardku yang sudah berusia setengah baya dari pada bodyguardku yang ini. Benar-benar menyebalkan!
________________________________________________________________
1 day later..
Aku melangkahkan kakiku kembali di taman yang cukup luas yang tak lain adalah tempat kursusku. Di ambang pintu masuk, sudah tidak asing lagi terdapat namja setengah baya yang menyambutku. Namja setengah baya itu membungkukkan badannya pertanda memberi hormat. Aku pun membungkukkan badanku, dan berjalan ke dalam tempat kursusku.
Pelayan rumah itu mempersilahkanku duduk sementara aku menunggu Hyun Sik-ssi yang sedang mengajari seorang yeoja bermain piano. Sepertinya aku datang terlalu cepat hari ini.
Aku mendengar pukulan keras yang biasa kudapatkan saat diajari oleh Hyun Shik-ssi. Aissshhhh, guru tua itu. Apa ia juga tega memukul seorang yeoja yang sedang bermain pia..
Eh? Yeoja itu lagi. Sedang apa ia disini? Bukankah kemarin ia datang setelah kursusku selesai? Apa mungkin jadwalnya berubah secepat itu? Banyak sekali pertanyaan yang kini bermunculan dari isi kepalaku. Bahkan terlalu banyak sampai aku sendiri tidak bisa menepisnya dengan perkiraanku.
Aku memperhatikan yeoja itu yang terus saja menatap tuts piano, bukannya malah memperhatikan not. Ia terlihat sangat takut dengan Hyun Sik-ssi. Jujur saja, sebenarnya aku juga sering merasa takut saat belajar dengan Hyun Sik-ssi. Aisshhh, kenapa ia tidak melihat notnya? Bahkan ia terjatuh sekarang karena pukulan Hyun Sik-ssi yang terus didaratkan di punggung yeoja itu. Yeoja itu hanya menunduk sambil terus meraba-raba lantai. Disekelilingnya terdapat beberapa buah permen yang tadi terjatuh dari tempatnya.
Kenapa yeoja itu tidak segera berdiri? Kenapa yeoja itu malah menunduk sambil meraba-raba lantai? Apa yang ia lakukan? Dan saat aku bertanya-tanya dalam hati tentang yeoja itu, pikiranku tiba-tiba berkata bahwa yeoja itu buta. Mungkinkah?
“Ahjussi, apa dia.. Apa dia buta?” Tanyaku kepada bodyguard paruh baya yang sering kupanggil ‘Ahjussi’ itu.
“Ssstt.. Tuan, jangan berkata terlalu keras.” Ahjussi mengisyaratkan agar aku tidak terlalu keras saat berkata seperti itu. Aku mengerti, mungkin Ahjussi takut yeoja itu mendengar percakapan kami.
Jadi benar.. Itu sebabnya yeoja ini selalu memandang lurus jalanan, tanpa melirik ke kiri atau ke kanan sekali pun. Kini yeoja itu mencoba bangkit dengan meraba-raba kursi yang berada di dekatnya dan kembali duduk di sana.
Aku harus menghiburnya. Entah kenapa ide gila itu muncul dari otakku. Tentu saja ini ide gila. Aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana aku bisa menghiburnya? Yeoja itu pasti akan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Tapi rasa iba ku menutup pikiran rasionalku tentang ide gila tadi. Saat Hyun Sik-ssi meninggalkan ruangan itu, dengan cepat aku memasuki ruangan itu dan duduk di sebelah yeoja itu.
Aku memainkan jariku dengan mahir diatas tuts piano, membuat yeoja itu sedikit kaget. “Tenang saja, aku akan membantumu bermain piano,” Bisikku. Yeoja itu masih bingung dengan keberadaanku. Wajahnya masih terlihat heran saat aku berada di sebelahnya dan memainkan piano.
Tap.. Tap..
Langkah kaki itu sontak membuatku berlari panik ke belakang piano tanpa meninggalkan bunyi langkah kaki sedikitpun. Pasti itu Hyun Sik-ssi. Ya, ia tampaknya tidak menyadari keberadaanku yang sedang bersembunyi di belakang piano. Ia hanya heran karena bunyi piano yang kumainkan tadi. Bisa kudengar lagi, langkahnya kini terdengar semakin jauh. Sepertinya ia sudah pergi. Aku pun mengintip memastikan Hyun Sik-ssi benar-benar pergi. Lalu kembali duduk disamping yeoja itu.
DEGGG!
Aissshhh.. Jantungku.. Jantungku kembali terasa sakit. Aku menyentuh daerah jantungku, mencoba menahan rasa sakit yang begitu hebat yang sering sekali kurasakan sebelumnya. Aiiihhhh.. Untung saja yeoja ini tidak bisa melihatku, aku tidak mau membuatnya panik. Aku meraba saku celanaku, mengambil pil untuk meredakan rasa nyeri pada jantungku, dan menelannya.
“Apa itu?” Tanya yeoja itu. Kalimat pertama yang ku dengar dari mulutnya.
“Aaah.. Ani. Ini.. Ini hanya permen.” Aku meraih permen yang serupa saat yeoja ini terjatuh dan meraba-raba lantai mencoba bangkit.
“Aa, buka mulutmu,” Ucapku masih mencoba menahan rasa nyeri. Yeoja ini membuka mulutnya, aku pun memasukkan permen ke dalam mulutnya.
Terlihat seulas senyum manis yang entah kenapa bisa membuat jantungku yang masih terasa nyeri berdetak lebih cepat. Aku pun ikut tersenyum saat yeoja ini tersenyum. Entahlah, aku tidak tahu kenapa seperti ini.
*Kim You Jung POV*
“Bodoh! Notnya salah! Sudah ku katakan raba tuts pianonya!” Bentak Ahjussi. Aih, punggungku sakit, daritadi ia memukuli punggungku dengan alat runcing yang panjang miliknya. Entah benda apa itu.
Aku hanya menunduk, aku tidak bisa bermain piano! Aku tidak bisa! Haruskah aku berteriak pada Ahjussi bahwa aku tidak bisa bermain piano?! Tidak, seumur hidupku aku tidak pernah berteriak. Bahkan bicara saja sangat jarang. Aku tidak ingin berteriak, tapi Ahjussi memaksaku seperti ini, membuatku ingin berteriak sekarang juga.
“Sudahlah. Percuma saja mengajarimu! Melihat saja kau tidak bisa!”
Bahkan Ahjussi membenciku karena aku buta. Apa yang harus aku lakukan selain diam berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja Ahjussi katakan? Benar, aku yeoja buta yang tidak dapat melakukan apapun selain diam menyendiri. Apa yang bisa aku lakukan? Batinku.
Dengan satu pukulan lagi dari Ahjussi, aku sudah jatuh ke lantai. Bahkan sekarang aku merasa sangat rendah. Aku hanya bisa menunduk, meraba, mencoba bangkit untuk duduk kembali. Batinku menjerit, berkata bahwa aku membenci hidup ini. Sangat membenci hidup ini.
Tiba-tiba aku merasakan langkah seseorang mendekat, dan duduk di sampingku. Siapa dia?
“Tenang saja, aku akan membantumu bermain piano.” Bisik seseorang itu. Sepertinya dia seorang namja. Namja itu pun memainkan piano, membuatku bertambah heran. Kenapa namja ini mendekatiku? Dan kenapa namja ini ingin menolongku?
Beberapa menit kemudian suara langkah kaki seseorang terdengar, dan bisa ku rasakan, namja yang berada di sampingku tadi segera berlari entah kemana. Meninggalkanku dan bunyi langkah kaki itu. Entah siapa yang berjalan, tapi tampaknya dia tidak menyadari keberadaan namja tadi yang berada di sampingku.
Langkah kaki yang terdengar tepat di belakangku itu kembali terdengar, namun kali ini terdengar semakin kabur. Sepertinya dia sudah pergi. Aah, lalu apa namja yang tadi duduk disampingku akan kembali lagi?
Seolah terjawab, namja itu duduk kembali di sampingku. Dan kembali memainkan piano. Tampaknya namja ini sangat mahir, nada-nada yang ia hasilkan sangat enak didengar. Tentu saja, karena ia bisa melihat not dan tutsnya dengan jelas.
Ckrek..
Suara yang menyerupai sesuatu berbahan plastik dibuka itu membuatku terdiam dan bertanya. Namja ini memakan permen?
“Apa itu?” Aku memberanikan diri menanyakannya pada namja itu. Aku juga mendengar desahan berat dari mulut namja itu. Ada apa dengan namja ini?
“Aaah.. Ani. Ini.. Ini hanya permen.” Mungkin benar. Itu hanya permen, tidak ada benda plastik yang kudengar terbuka. “Aa, buka mulutmu,”
Entah bibir ini terkutuk mantra sihir namja ini atau apa. Aku dengan mudahnya membuka mulutku. Kenapa jadi seperti ini? Bukankah aku adalah yeoja yang dingin? Tapi saat bersama namja ini aku merasa bukan diriku sendiri. Aku seperti yeoja dengan kepribadian ceria, seperti yeoja lainnya. Bodoh, aku bahkan belum mengenalnya!
Lidahku mengecap benda yang namja tadi sebut permen. Manis. Tentu saja, tapi rasa manis permen ini didominasi dengan rasa senang sekarang. Tanpa sadar bibirku mengulaskan senyum. Entah senyum jenis apa, seperti aku baru pertama kalinya memakan permen. Aku terlihat seperti anak kecil sekarang.
“Siapa namamu?” Tanya namja itu, lagi-lagi membuatku sedikit kaget.
“Kim Young Jung imnida.”Aku tersenyum, meskipun aku tidak yakin wajah namja itu ada di depanku. “Neo?” Tanyaku balik. Sekali lagi, aku hanya berbicara lurus ke depan, karena aku tidak tau namja itu berada dimana.
“Kim Min Seok imnida. Panggil saja aku Xiumin.” Jawabnya ramah. Namja ini sangat baik.
“Baiklah, sesuai janjiku. Aku akan mengajarimu piano. Pertama-tama.. Kau harus merileks-kan tanganmu, bla bla bla bla bla.”
Saat namja itu menerangkan panjang lebar padaku, aku merasakan namja itu mulai memainkan jariku diatas tuts piano. Membimbing tanganku untuk mengikuti tangannya.
Deg deg deg deg deg..
Astaga.. Jantungku, kenapa berdetak sangat cepat? Sesaat kemudian aku baru menyadarinya. Xiumin memegang tanganku. Ya! Dia memegang tanganku. Tangan Xiumin terasa hangat dan.. Nyaman. Mungkin pikiranku sudah terlalu sibuk berpikir sehingga aku sama sekali tidak menarik diri darinya. Aku seperti orang lain, bukan diriku sendiri. Tapi aku merasakan banyak kesenangan dengan Xiumin. Meskipun aku baru bertemu dan mengenalnya beberapa menit yang lalu. Entahlah, mungkin otakku sudah berhenti berfungsi.
________________________________________________________________
*Author POV*
“Ssstt..” Bisik Xiumin pada You Jung. Jelas-jelas ia harus berhati-hati, ia bisa dibawa oleh bodyguardnya jika mereka mengendus keberadaannya disini. Ia hanya ingin membawa You Jung sedikit melepaskan bebannya, di taman ini. Taman favoritnya di tempat kursus.
Xiumin mengintip di balik tembok layaknya seorang penguntit. “Kajja! Kajja!” Bisiknya lagi. Aissshhh, ia lupa You Jung tidak bisa melihat.
Xiumin segera menarik tangan You Jung dan menariknya untuk duduk di taman. Dan kembali membuat jantung You Jung berdegup kencang seperti biasanya.
Sudah sekitar 3 bulan ia mengenal You Jung, dan buta bukanlah halangan untuk menyukai yeoja itu. Ya benar, Xiumin menyukai yeoja itu. Yeoja yang selalu membuatnya tersenyum belakangan ini. Entah bagaimana ceritanya, ia selalu merasa nyaman jika berada didekat yeoja itu. Sedikit-sedikit ia sudah tau bagaimana masa lalu You Jung, dan ia semakin ingin menjaga yeoja ini. Xiumin tidak pernah tenang jika meninggalkan You Jung sendirian, ia tahu bagaimana takutnya You Jung saat sendirian. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan hanya untuk teriak saja ia tidak bisa. Sejak itulah, sejak rasa sayangnya kepada You Jung semakin kuat dan, ia berjanji untuk selalu melindungi You Jung. Meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana cara melinduginya.
“Xiumin-ya?” You Jung yang kini sedang duduk berhadapan dengan Xiumin meraba-raba kedepan. Mencari keberadaan Xiumin.
“Ne, aku disini.” Nada suaranya itu.. Nada suara Xiumin selalu berhasil membuat hati You Jung merasa tenang.
“Bolehkah aku..” You Jung ragu untuk melanjutkan permintaannya. Ia hanya takut Xiumin tidak ingin melakukan permintaannya.
“Ne? Kau mau apa, You Jung-ya?”
“Bolehkah aku menyentuh wajahmu sebentar saja?” You Jung ingin melihatnya. Tapi itu sangat mustahil, jadi You Jung hanya ingin menyentuh wajahnya.
Terdengar nada irih dari suaranya. Aaah, andai ia bisa menghapuskan kesedihan di benak You Jung..
“Ne, tentu saja.”
You Jung mengulurkan kedua tangannya ke depan wajah Xiumin. Tangannya terasa sangat gemetar, hingga akhirnya ia bisa menyentuh wajah Xiumin dengan kedua tangannya. Ya, ia menyentuh wajah Xiumin meskipun ia tidak bisa membayangkan wajah Xiumin.
Xiumin merasa sangat tenang.. Kedua tangan yang sedang menelungkupkan jarinya di wajah Xiumin terasa sangat hangat. Ia ingin terus seperti ini.. Bersama You Jung. Jika ada bintang jatuh yang datang detik ini juga, ia ingin berharap sesuatu. Ia ingin terus bersama You Jung, ia ingin terus melindunginya..
Xiumin menarik tangan You Jung, melepaskan kedua tangan hangat yang beberapa detik yang lalu berada di wajahnya. Kemudian ia menarik tangan You Jung pada dadanya yang sedang berdegup hebat. Ia melihat You Jung yang sedang tersenyum, senyum yang sama saat pertama kali ia menyuapkan permen ke mulut You Jung. Senyum yang tidak pernah bosan dilihat oleh Xiumin.
You Jung merasakan jantung Xiumin yang berdetak sangat cepat dan tidak beraturan. Sama seperti degup jantungnya sekarang. Hangat.. Sangat hangat. Sekarang, kemarin ataupun besok, ia merasa hidupnya lebih berarti. Dengan keberadaan namja ini disisinya, dengan sikap hangat yang selalu namja ini lakukan padanya. Bosankah? Bosankah namja ini berada disisinya? Saat ini perasaan takut juga senang tengah menjalari otaknya. Ia hanya bisa berharap agar namja ini selalu berada disampingnya, membuatnya tersenyum lebih lama. Namun bisakah yeoja buta sepertinya berharap lebih jauh seperti ini?
Bisakah? Entahlah, harapannya terlalu besar untuk yeoja sepertinya. Xiumin terlalu sempurna untuknya, bahkan Xiumin bisa mencari yeoja yang lebih baik darinya.
DEGG!
Ah! Kenapa saat seperti ini sakitnya muncul lagi? Xiumin memegangi dadanya. Merasakan rasa sakit yang dalam sekejap sudah menjalari dadanya. Ia berharap You Jung tidak merasakan degupan yang berbeda dari jantungnya, ia tidak mau yeoja ini mengetahui penyakitnya. Baru saja ia ingin mengambil pil pereda rasa nyerinya, dua orang ‘penguntit’ sudah berada di depan matanya. Ia benci situasi ini.
“Kau ini! Sudah, pulang!” Omel bodyguardnya. Meskipun ia adalah anak semata wayang di keluarganya, ia tidak berhak memecat dua orang yang sangat menyebalkan yang mereka bilang bodyguard. Demi apapun, ia ingin mengunci rapat-rapat tubuh semua bodyguardnya dan menjerumuskannya ke dalam jurang tersembunyi! -_-
Tanpa omelan yang lebih banyak lagi, kedua bodyguardnya langsung menyeretnya tanpa ampun. Xiumin mencoba memberontak, tapi sia-sia. Ia merasa seperti boneka sekarang. Tidak bisa melakukan apapun, selain berteriak ‘lepaskan’.
Saat ini ia sudah mengabaikan rasa sakit yang sedang menjalari jantungnya. Ia merasakan sakit yang lebih hebat dari sakit itu. Yaitu sakit melihat yeoja yang ia cintai hanya bisa memanggil namanya. Hanya bisa meraba-raba sekitar. Yeoja itu terduduk sambil memegangi pilnya yang terjatuh. Ia berharap sekarang juga ia punya kekuatan ajaib seprti di film fantasy, ia ingin melawan bodyguardnya dan membawa You Jung pergi. Pergi ke tempat dimana tidak ada peraturan yang mengikatnya lagi. Tidak bisakah mereka membiarkannya bahagia sebentar saja bersama You Jung?!
“Xiumin-ya? Xiumin-ya?” Panggil You Jung lirih.
“Lepaskan! Lepaskan! Bodoh, lepaskan aku!” Xiumin masih terus memberontak. Bodoh, sekuat apapun ia mencoba memberontak, ia tidak bisa menghadapi dua tubuh jangkung yang sedang menariknya ini.
*Kim You Jung POV*
“Xiumin-ya? Xiumin-ya?” Aku hanya bisa meraba-raba sekitar. Tanpa bisa melihat Xiumin, tanpa tahu keberadaannya. Kemana dia? Kemana namja itu? Yang aku tahu hanya Xiumin sudah tidak ada disampingku, ia seperti dibawa oleh seseorang.
Apa yang bisa aku lakukan? Tunggu, ini.. Ini seperti pil yang selalu Xiumin gunakan. Kenapa ia tidak membawanya? Sepertinya pil ini terjatuh.
“Lepaskan! Lepaskan! Bodoh, lepaskan!” Xiumin berteriak. Aku bisa mendengarnya.
Astaga, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa seseorang membawa Xiumin pergi? Aku, yeoja yang sangat bodoh ini hanya bisa meraba-raba sekelilingku sambil memanggil namanya. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang bisa aku lakukan?
Sesaat kemudian teriakan Xiumin sudah tidak terdengar oleh telingaku. Apa mungkin ia sudah pergi? Aisssshhh, air tidak berguna ini menetes begitu saja dari kedua mataku. Aku tidak ingin menangis, aku tidak ingin menangis.. Lagipula apa gunanya aku menangis? Apa itu akan membuat Xiumin kembali disampingku lagi? Bodoh, tidak. Itu hanya akan membuatku semakin bodoh.
________________________________________________________________
Hari sudah malam, aku bisa merasakannya. Malam, setelah satu minggu Xiumin tidak datang ke tempatku. Satu minggu setelah Xiumin tidak menghiburku dengan candaannya, tidak membuatku merasakan nyaman dengan kehangatannya. Apa namja itu akan datang lagi? Apa dia sudah bosan menghiburku? Aku merindukannya. Bahkan sudah lama sejak dia tidak berada di sini, disampingku.
***
“You Jung-ya?”
“Ne?”
“Apa kau sudah merasa nyaman sekarang?”
“Ne. Aku merasa nyaman.. Saat berada didekatmu.”
“Jinjja? Kalau begitu aku akan selalu berada di sampingmu. Bolehkah?”
“Tentu saja. Jangan pergi.”
“Jika kau membutuhkanku, berdiamlah di depan piano. Aku akan memainkan piano untukmu.”
“Jinjja? Kau akan datang?”
“Ne, tentu saja.”
Hening.
“Xiumin-ya.. Terimakasih..”
Aku sudah berdiam didekat piano. Aku sudah menunggumu sejak beberapa hari yang lalu. Lalu kenapa kau tidak kunjung datang? Kau bilang akan memainkan piano untukku saat aku sedang membutuhkanmu. Datanglah.. Datanglah.. Aku benar-benar membutuhkanmu.
Gila, benar aku sudah gila memikirkannya sekarang. Mustahil dia datang saat aku membutuhkannya. Mustahil dia datang saat aku kese..
Teng.. Teng.. Teng
Apa? Itu.. Itu suara piano. Ya, aku yakin itu suara piano! Lalu siapa yang memainkannya? Xiumin.. Namja itu kah? Astaga. Khayalanku kini sudah memanjat masuk ke dunia nyata. Mana mungkin bisa terjadi? Ini bukan dunia dongeng seperti yang selalu ada di pikiranku! Mana mungin bisa me..
Teng.. Teng.. Teng..
Bunyi dentingan itu berbunyi kembali. Kali ini nadanya terdengar sangat menyayat, membuatku sejenak melupakan bantahanku tentang siapa yang memainkan piano itu. Entah kenapa.. Entah kenapa aku merasa itu Xiumin. Ya, yang memainkannya adalah Xiumin. Nada yang ia buat sangat khas, membuatku bisa membedakan siapa yang memainkannya.
Ya, itu Xiumin..
Hatiku yang tadi sempat gelisah, kini hanyut dengan nada dari tangan-tangan yang menari diatas tuts-tus itu. Aku merasa nyaman, dan aku mendapati bibirku bisa tersenyum kembali.
TEEEENNNGGG!
Astaga. Apa itu? Sesuatu yang berat seperti sedang menimpa tuts-tuts piano tersebut. Lalu perasaanku kalang kabut, otakku meracau meluncurkan dugaan-dugaan buruk tentang namja itu. Jangan, kumohon jangan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada namja itu.
Menit demi menit berlalu, aku masih mematung memikirkan Xiumin. Aku hanya terdiam saat ada sesuatu yang bergerak masuk, menimbulkan sedikit kegaduhan, dan kemudian pergi lagi. Entahlah, otakku tidak ingin berpikir lebih jauh lagi tentang namja itu. Kubuang jauh pikiran burukku tentang apa yang sedang terjadi, dan aku menunggunya. Masih menunggunya melanjutkan permainan pianonya.
Teng.. Teng.. Teng..
Xiumin.
________________________________________________________________
*Xiumin POV*
Aku melangkahkan kakiku dengan malas. Berjalan menuju ruang piano yang sering ku datangi. Aku sangat berantakan. Rambutku acak-acakan, bajuku, bahkan aku memakainya secara asal. Satu minggu tanpa yeoja itu, sudah membuatku seperti ini. Membuatku sangat kacau dan merasa tidak berguna. Jelas saja aku menyesali janjiku sendiri, janjiku untuk terus melindungi You Jung. Realitasnya ia sama sekali tidak bisa melindungi You Jung, bahkan berada disampingnya saja aku tidak bisa.
Teng.. Teng.. Teng..
Aku memainkan jariku dengan mahir, menghasilkan nada yang entah bagaimana bisa sangat menyayat hati. Inilah yang selalu bisa ku hasilkan, hanya nada-nada piano yang bisa mewakili perasaanku. Senang, sedih, kecewa, kutuangkan dalam nada-nada piano. Aku terus memainkannya dengan sangat mahir. Dan tanpa sadar permainan pianoku terus melambat, melambat, hingga akhirnya..
TEEENNNGGG!
Semuanya berubah menjadi gelap.
*Author’s POV*
“Cepat! Cepat buka pintunya!” Teriak Ahjussi yang sedang mengangkat tubuh lemah seorang namja.
Pintu mobil segera terbuka, dibantu oleh 2 bodyguard yang membantu mengangkat tubuh lemah namja tadi dan memasukannya ke dalam mobil. Ketiga bodyguard itu terlihat sangat panik, lalu dengan cepat mengendarai mobilnya ke rumah sakit.
“Xiumin-ya! Xiumin-ya! Bertahanlah!”
***
Ini adalah salahnya. Ini semua adalah salahnya. Ia yang memisahkan You Jung dari Xiumin. Ia, Park Hyun Sik, hanya tidak ingin You Jung kehilangan orang yang dekat dengannya untuk kedua kalinya. Hyun Sik tidak ingin You Jung tahu, bahwa Xiumin mempunyai penyakit jantung yang sedang menggerogoti umurnya. Demi tuhan, ia hanya ingin You Jung tidak merasakan rasa sakit seperti dulu, saat You Jung kehilangan kedua orangtuanya. Tapi cara ini salah besar. Ia sangat menyesal.
Teng.. Teng.. Teng..
Dentingan piano kembali terdengar dari ruangan itu. Tentu saja Hyun Sik yang sedang memainkannya.
You Jung, air matanya satu persatu meluncur sambil terus memegangi pil yang satu minggu yang lalu terjatuh didekatnya. Dan bibirnya ditarik keatas, melengkung sempurna. Ia tidak tahu apa-apa, yang ia tahu orang yang bermain musik tetaplah Xiumin.
.
.
.
.
.
.
Gimana Chingu? Seru? Huffftt.. Maaaappp telat banget ngepostnya L soalnya author kan juga lebaran, jadi sibuk :D
WAJIB tinggalin komentar kalian tentang ff ini ^^
Thank’s for Reading, dan saya Tiffany Hwang (?) author terabsurd pamit undur diri, salam olahraga/? -_-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar